USD/IDR Melemah, Rupiah Dapat Dukungan BI

USD/IDR - Kepoin Trading

USD/IDR Melemah ke 17.810

USD/IDR melanjutkan pelemahan untuk hari kedua. Pasangan ini bergerak di sekitar 17.810 pada perdagangan Asia, Kamis. Rupiah mendapat dukungan setelah Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya menjaga stabilitas mata uang.

BI mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% untuk bulan kedua berturut-turut. Keputusan itu menunjukkan kesinambungan kebijakan setelah BI menjalankan pengetatan sebesar 100 basis poin sejak Mei.

Dalam rapat kebijakan pertama di bawah Pelaksana Tugas Gubernur BI Destry Damayanti, bank sentral juga menegaskan fokus pada stabilitas rupiah. Langkah tersebut bertujuan menjaga inflasi impor sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan likuiditas yang lebih terarah.

Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas BI

Destry Damayanti menegaskan bahwa BI akan memprioritaskan stabilitas rupiah di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Ia juga mempertahankan sasaran inflasi BI sebesar 2,5% plus-minus 1% untuk 2026-2027.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa stabilitas harga tetap menjadi bagian penting dari strategi BI. Pada saat yang sama, BI ingin menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan.

UOB Group menilai kombinasi kebijakan moneter dan langkah likuiditas BI dapat membantu menjaga stabilitas makroekonomi. Sikap tersebut juga memberi dukungan bagi rupiah ketika pasar global menghadapi ketidakpastian.

Dolar AS Masih Mendapat Dukungan The Fed

Tekanan terhadap dolar AS dapat membatasi penguatan rupiah. Risalah rapat Federal Reserve (Fed) Juli menunjukkan sejumlah pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi belum turun lebih jauh.

Sikap hawkish tersebut menjaga ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga AS tahun ini. Kondisi itu berpotensi memberikan dukungan bagi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Namun, pergerakan dolar tidak sepenuhnya kuat. Brown Brothers Harriman mencatat dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama. Tekanan tersebut muncul ketika aksi jual saham dan obligasi mulai mereda.

Ketegangan Hormuz Jadi Risiko Pasar

Ketegangan di Selat Hormuz juga menjadi perhatian pasar. Hubungan Amerika Serikat dan Iran masih menghadapi risiko geopolitik meski Donald Trump menyatakan bahwa lalu lintas minyak tetap berjalan dan membuka peluang negosiasi dengan Teheran.

DBS Group Research menilai konflik AS-Iran memasuki fase yang lebih tenang. Washington kini lebih mengarah pada tekanan ekonomi terhadap Iran daripada intervensi militer langsung.

Situasi tersebut tetap menjaga kewaspadaan investor. Jika ketegangan meningkat, permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS dapat kembali naik.

Rupiah Punya Penopang dari Kebijakan BI

USD/IDR masih menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Kebijakan BI mendukung rupiah melalui fokus pada stabilitas mata uang dan inflasi. Sebaliknya, prospek suku bunga AS serta risiko geopolitik dapat menjaga permintaan terhadap dolar AS.

Harga minyak juga menjadi faktor penting. Minyak mentah berada di sekitar US$91 per barel dan mendekati level tertinggi dalam tiga pekan. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan biaya impor bagi negara berkembang.

Dengan kebijakan BI yang konsisten, rupiah memiliki penopang domestik yang lebih kuat. Namun, arah berikutnya tetap bergantung pada kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, harga minyak, dan perkembangan geopolitik global.

Baca juga: Dolar AS Melemah Jelang Rilis Notulen FOMC Juli

Sumber: FXStreet