Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Selasa. Kenaikan ini menekan bursa saham Amerika Serikat. Bursa AS sebelumnya sudah tertekan oleh aksi jual saham teknologi.
Indeks Nasdaq Composite turun 1,3 persen. Indeks ini memimpin pelemahan bursa utama. Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,2 persen. Indeks S&P 500 melemah 0,6 persen dan memperpanjang koreksi sejak awal pekan.
Kenaikan harga minyak, imbal hasil obligasi yang tinggi, dan gejolak sektor teknologi menjadi kombinasi yang membebani pasar sepanjang hari.
Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Ketegangan AS-Iran
Kenaikan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menegaskan niatnya. Trump ingin menambah tekanan ekonomi terhadap Iran. Trump juga mengancam akan “mengebom” Oman jika negara itu mengganggu rencana AS di Selat Hormuz.
Minyak mentah Brent, sebagai acuan internasional, bergerak mendekati 91 dolar AS per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate naik ke 84 dolar AS per barel. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan anjloknya cadangan minyak strategis AS. Cadangan tersebut kini berada di level terendah sejak 1982.
Saham Teknologi Jadi Pemberat Utama Wall Street
Saham-saham chip memimpin koreksi di bursa AS. Saham Nvidia turun lebih dari 2 persen di tengah aksi jual besar-besaran sektor semikonduktor. Saham AMD dan Intel ikut tertekan dalam pola serupa.
Kinerja emiten masih memberi sedikit dukungan bagi pasar. Saham Home Depot relatif stabil. Perusahaan ini melaporkan perbaikan penjualan kuartal kedua. Konsumen lebih memilih proyek renovasi berskala kecil selama musim panas. Sebaliknya, saham Klarna anjlok setelah perusahaan memangkas proyeksi kinerjanya.
Yield Obligasi AS Menanjak ke Level Tertinggi
Beberapa faktor mendorong kenaikan imbal hasil obligasi global. Faktor itu meliputi harga minyak yang naik, gelombang pinjaman untuk proyek kecerdasan buatan, dan kekhawatiran atas beban utang pemerintah.
Yield obligasi AS tenor 10 tahun sedikit mereda, namun tetap tinggi di kisaran 4,70 persen. Untuk tenor 30 tahun bertahan mendekati level tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Yield ini bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak Juni 2007.
Investor kini mencermati dampak biaya pinjaman yang lebih mahal. Biaya ini berpotensi membebani konsumen dan industri padat modal seperti kecerdasan buatan. CME Group melalui FedWatch Tool mencatat pelaku pasar masih memperkirakan peluang sekitar 68 persen. Peluang ini mengarah pada kenaikan suku bunga bank sentral AS hingga akhir tahun.
Emas Rebound di Tengah Ketidakpastian Kebijakan The Fed
Harga emas berbalik naik dari level terendah mingguan. Level terendah ini tersentuh pada sesi Asia. Harga emas kini kembali ke atas 4.350 dolar AS.
Dolar AS justru menghadapi tekanan jual. Tekanan ini menghentikan sementara pemulihan dolar dari level terendah dua bulan. Pelaku pasar memilih menunggu sinyal lebih jelas soal arah kebijakan bank sentral AS. Mereka belum ingin mengambil posisi baru pada emas.
Perhatian pasar kini tertuju pada rilis risalah rapat kebijakan The Fed. Kekhawatiran inflasi masih membayangi akibat lonjakan harga energi imbas krisis Timur Tengah.
ING menilai indeks dolar AS telah pulih dari level terendahnya. Namun, penguatan ini belum cukup kuat untuk berbalik arah secara berkelanjutan. Menurut ING, dua faktor utama menopang dolar AS dalam jangka pendek: kenaikan harga energi dan naiknya yield obligasi tenor 30 tahun. Jika berlanjut, kondisi ini berpotensi membuka peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Sikap Pejabat AS dan Iran soal Selat Hormuz
Presiden Donald Trump menegaskan bahwa AS tidak sedang menjalin pembicaraan dengan Iran. Blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran tetap berlaku penuh, menurut Trump. Trump juga mengunggah peta di platform Truth Social. Peta itu menggambarkan Selat Hormuz sebagai wilayah baru AS.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberi tanggapan berbeda. Ghalibaf menyatakan bahwa jalur pelayaran strategis itu akan tetap ditutup. Penutupan berlaku hingga AS memenuhi syarat dalam nota kesepahaman bulan Juni. Pernyataan ini mempertahankan premi risiko geopolitik. Premi ini turut menopang harga minyak yang sudah tinggi.
Ketidakpastian geopolitik terus berlanjut. Kondisi ini membuat pelaku pasar menahan diri dari aksi jual besar-besaran terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Tekanan inflasi dari sisi energi masih terus membayangi.
Baca juga: Dolar AS Tertekan, Ketegangan Timur Tengah Jadi Sorotan
Sumber: Yahoo Finance, FX Street
