Dolar AS Gagal Rebound Jelang Data PMI
Harga emas melesat justru di tengah pelemahan dolar. Pelemahan ini masih berlanjut sejak pertengahan pekan. Indeks Dolar AS bertahan tipis di atas level terendah tiga bulan. Level ini tercatat dekat 98,50 pada Kamis. Pasar kini menanti data awal PMI manufaktur dan jasa bulan Agustus. Data ini datang dari Jerman, Zona Euro, Inggris, dan Amerika Serikat. Rilisnya jatuh pada Jumat dan berpotensi menggerakkan arah dolar dalam jangka pendek.
Riset DBS Group menilai kebijakan buyback Treasury AS belum akan mengubah arah pasar. Kongres, bukan Departemen Keuangan, yang menentukan anggaran AS. Tanpa perubahan arah fiskal yang berarti, penyesuaian buyback hanya memberi dampak kecil dan sementara.
Sanksi AS terhadap Iran Berisiko Angkat Ekspektasi Inflasi
Risiko geopolitik turut mendukung penguatan dolar. AS akan mengumumkan pengetatan sanksi terhadap Iran pada Senin. Langkah ini berpotensi memicu konsekuensi yang tidak diinginkan. Salah satunya, ekspektasi inflasi bisa naik dan mendorong imbal hasil obligasi AS serta dolar naik bersamaan.
Ketegangan diplomatik di kawasan Teluk turut mendorong harga minyak naik. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran inflasi global. Washington menyiapkan inisiatif bertajuk “economic D-day” untuk membatasi ekonomi Iran secara ketat. Langkah ini menyasar bank, lembaga pelayaran, transfer tunai, dan jaringan penyelundupan. Tujuannya, memutus akses Teheran ke pasar global dan mendorong negosiasi soal isu nuklir dan regional.
Pernyataan Hawkish Pejabat The Fed Dukung Dolar AS
Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan pidato bernada hawkish pada Kamis. Ia menekankan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan kondisi finansial yang masih akomodatif. Inflasi inti, menurutnya, masih bertahan di kisaran 2,5%-3%. Menaikkan suku bunga sekarang, katanya, bisa mencegah tindakan yang lebih agresif nanti. Karena itu, ia condong pada kebijakan pre-emptive tightening. Ia tetap menegaskan pentingnya menjaga kredibilitas dan independensi The Fed.
Musalem juga menyoroti potensi guncangan pasokan akibat fenomena “super El Nino”. Ia turut menyinggung biaya input yang tinggi dan gejala crowding out pada kredit. Faktor-faktor ini memperkuat narasi inflasi yang mendukung penguatan dolar. Meski begitu, ia enggan memberi sinyal pasti soal arah kebijakan pada FOMC September. Ekspektasi suku bunga jangka pendek pun tetap bergantung pada data.
Harga Emas Melesat ke Level Tertinggi sejak Mei
Harga emas melesat sejak awal sesi Eropa pada Jumat. Logam mulia ini mencatat momentum bullish yang kuat. Emas kini diperdagangkan di atas $4.550, level tertinggi sejak akhir Mei. TD Securities menilai sinyal kebijakan terbaru tetap mendukung harga emas. Departemen Keuangan berupaya menahan imbal hasil obligasi jangka panjang. The Fed sendiri cenderung mengabaikan kenaikan harga energi.
Meski demikian, TD Securities mengingatkan bahwa pasar masih memperkirakan kenaikan suku bunga pada 2027. Harga emas melesat lebih lanjut baru mungkin terjadi setelah pasar yakin The Fed benar-benar menahan suku bunga dalam waktu lama.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyinggung soal konsolidasi fiskal. Ia juga menawarkan peningkatan buyback Treasury oleh pemerintah. Namun, langkah ini belum mampu menahan imbal hasil obligasi AS. Imbal hasil kembali naik setelah sempat mereda akibat intervensi Treasury pada Rabu.
Commerzbank menilai upaya menekan imbal hasil jangka panjang lewat buyback tidak akan bertahan lama jika berdiri sendiri. Intervensi Departemen Keuangan AS sulit berhasil dalam jangka panjang. Ini berlaku berapa pun besar buyback yang dijanjikan Bessent. Syaratnya, harus ada rencana fiskal yang meyakinkan untuk mengurangi utang. Pelaku pasar akan tetap fokus pada arah besar keuangan publik AS, bukan sekadar operasi neraca yang bersifat taktis.
Pergerakan Poundsterling dan Euro
Kantor Statistik Nasional Inggris mencatat penjualan ritel turun 0,5% secara bulanan pada Juli. Bulan sebelumnya, Juni, penjualan ritel justru naik 0,7%. Pasangan GBP/USD tidak menunjukkan reaksi signifikan terhadap data ini. Pasangan ini tetap diperdagangkan dengan penguatan tipis di level 1,3650.
EUR/USD sempat bergerak fluktuatif pada Kamis. Pasangan ini menguat pada sesi pagi Eropa Jumat dan mendekati level 1,1700. Sementara itu, USD/JPY sempat naik 0,6% pada Kamis. Pasangan ini kehilangan momentum pada Jumat dan melemah tipis di bawah level 159,00.
Pasar Saham Asia Bergerak Variatif
Bursa saham Asia secara umum menguat pada Jumat. Kawasan ini masih berpotensi mencatat pelemahan mingguan seiring meredanya tekanan pada imbal hasil obligasi global. Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,21% ke sekitar 66.100. Saham teknologi seperti SoftBank Group, Advantest, dan Taiyo Yuden menekan indeks ini. Indeks Topix yang lebih luas justru naik 0,17% ke atas 4.050.
Inflasi tahunan Jepang pada Juli naik ke 2,0% dari 1,6% pada Juni. Inflasi inti tanpa harga pangan segar sesuai ekspektasi pasar di angka 1,8%. Di Hong Kong, indeks Hang Seng melesat 0,76% ke sekitar 25.900. Inflasi lokal melambat ke 1,7% pada Juli dari 2,0% pada dua bulan sebelumnya. Sektor elektronik, manufaktur, dan keuangan menjadi pendorong utama penguatan ini.
Indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,74% ke level 6.900. Penguatan saham produsen chip utama mendukung kenaikan ini. Saham Samsung Electronics naik sekitar 1%, sementara SK Hynix melonjak 4%. Ekspektasi pembagian dividen dan permintaan teknologi berbasis AI mendorong kenaikan ini. Data ekspor menunjukkan nilai ekspor semikonduktor Korea Selatan hampir tiga kali lipat. Nilainya mencapai $26 miliar pada 20 hari pertama Agustus.
Di China daratan, pergerakan pasar cenderung terbatas. Investor masih menanti katalis ekonomi baru. Indeks Shanghai Composite turun tipis 0,12% ke sekitar 3.900. Shenzhen Component justru naik 0,5% ke sekitar 14.050. Perhatian pasar kini tertuju pada pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China. Pertemuan ini berlangsung pada 25-28 Agustus. Pelaku pasar berharap ada dukungan kebijakan tambahan setelah data ekonomi Juli yang lemah.
Baca juga: Dolar AS Tertekan Usai Fed dan Kebijakan Buyback
Sumber: FXStreet
