Saham Asia Bergerak Hati-Hati Jelang Data Inflasi Global dan Pertemuan OPEC+
Saham Asia membuka pekan dengan pergerakan terbatas karena pelaku pasar menahan risiko. Investor menunggu rilis data inflasi utama dari Amerika Serikat dan Eropa, serta hasil pertemuan produsen minyak yang berpotensi menentukan arah harga energi dalam waktu dekat.
Menjelang akhir bulan, pasar cenderung berhati-hati setelah mencatatkan keuntungan signifikan sepanjang November. Indeks Nikkei Jepang naik 0,3% pada awal perdagangan pekan ini, melanjutkan reli bulanan sebesar 9%. Sementara itu, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang bergerak stagnan, meski secara bulanan telah menguat 6,7%.
Di Amerika Serikat, kontrak berjangka Wall Street bergerak melemah tipis. Futures S&P 500 turun 0,1% dan futures Nasdaq terkoreksi 0,2%. Meski demikian, S&P 500 tetap berada dalam tren positif setelah mencatat kenaikan selama empat pekan berturut-turut dan menguat 8,7% sepanjang November, menjadi kinerja terbaik sejak pertengahan 2022.
Fokus pasar kini tertuju pada data inflasi pilihan Federal Reserve yang akan rilis pada Kamis. Pasar memperkirakan inflasi tersebut melambat ke level terendah sejak pertengahan 2021. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa arah kebijakan suku bunga selanjutnya cenderung mengarah ke penurunan.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell dijadwalkan berbicara dalam acara Fireside Chat pada Jumat. Selain itu, tujuh pejabat The Fed lainnya juga akan menyampaikan pandangan mereka sepanjang pekan. Namun, ekonom JPMorgan Bruce Kasman menilai bank sentral AS belum akan melonggarkan kebijakan pada paruh pertama 2024 kecuali ekonomi menghadapi ancaman serius atau risiko stabilitas keuangan meningkat.
Di Eropa, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde masih menunjukkan sikap hati-hati. Ia belum memberikan sinyal jelas terkait waktu pelonggaran kebijakan. Lagarde kembali berkesempatan menyampaikan pandangannya di parlemen Uni Eropa pada Senin.
Data inflasi konsumen Uni Eropa untuk November juga akan rilis pada Kamis. Pasar memperkirakan inflasi headline dan core sama-sama melambat, sehingga mendukung ekspektasi pemangkasan suku bunga di kawasan tersebut.
Saat ini, pasar telah memperhitungkan hampir 90 basis poin pemotongan suku bunga di Amerika Serikat pada tahun depan. Untuk ECB, ekspektasi pemangkasan berada di kisaran 83 basis poin.
Reli kuat di pasar obligasi menekan nilai tukar dolar AS. Yield obligasi AS tenor 10 tahun turun sekitar 37 basis poin sepanjang November ke level 4,49%. Seiring dengan itu, dolar melemah sekitar 3% terhadap sejumlah mata uang utama.
Euro menguat ke area $1,0940 dan mendekati level tertinggi empat bulan di $1,0965. Sementara itu, dolar AS bergerak relatif stabil terhadap yen Jepang di kisaran 149,53.
Penurunan yield obligasi turut mendorong minat terhadap emas. Harga emas bertahan di sekitar $2.000 per ons dan mendekati puncak Oktober di $2.009,29.
Di pasar energi, pelaku pasar menantikan pertemuan OPEC+ pada 30 November. Produsen minyak menunda pertemuan tersebut setelah muncul perbedaan pandangan terkait kebijakan produksi tahun depan.
Sejumlah spekulasi menyebutkan produsen minyak Afrika menginginkan batas produksi yang lebih tinggi untuk 2024. Pada saat yang sama, Arab Saudi mempertimbangkan perpanjangan pemangkasan produksi tambahan sebesar 1 juta barel per hari yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada Desember.
Ketidakpastian ini membuat harga minyak bergerak stabil. Brent naik 15 sen ke level $80,73 per barel, sedangkan minyak mentah AS menguat 14 sen menjadi $75,68 per barel.
Sumber: Reuters
