Krisis Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak

krisis selat Hormuz - Kepoin Trading

Krisis Selat Hormuz Ancam Pasokan Minyak Global

Krisis Selat Hormuz kembali menjadi sorotan setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak di Timur Tengah. Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dengan produksi lebih dari 3 juta barel per hari pada Januari. Negara ini berbagi garis pantai dengan Strait of Hormuz, jalur laut paling vital bagi perdagangan minyak dunia.

Selama ini pasar cenderung mengabaikan risiko gangguan pasokan dari kawasan tersebut. Namun, Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih, menilai ancaman kali ini nyata. Ia memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak 5 hingga 7 dolar per barel saat pasar kembali dibuka karena pelaku pasar mulai menghitung risiko geopolitik yang meningkat.

Pada penutupan perdagangan Jumat, minyak Brent berada di level 72,48 dolar per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) ditutup di 67,02 dolar per barel. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan.

Dampak Penutupan Selat Hormuz

Krisis Selat Hormuz dapat memburuk jika Iran membalas serangan dengan membuat jalur tersebut tidak aman bagi kapal komersial. Lebih dari 14 juta barel minyak per hari mengalir melalui Selat Hormuz pada 2025, atau sekitar sepertiga ekspor minyak laut global menurut Kpler. Sebagian besar pasokan itu menuju China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Jika penutupan berlangsung lama, resesi global hampir tak terhindarkan. Negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi kemungkinan akan melakukan penimbunan besar-besaran. Kondisi ini bisa memicu perang harga dan mendorong minyak menembus 100 dolar per barel.

Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memang memiliki jalur pipa alternatif. Namun kapasitasnya terbatas dan tidak mampu menggantikan seluruh volume yang biasanya melewati Selat Hormuz. Sekitar 20% ekspor gas alam cair dunia, terutama dari Qatar, juga melewati jalur yang sama.

Respons Amerika Serikat dan Risiko Resesi

Krisis Selat Hormuz juga memicu spekulasi soal langkah Washington. Presiden Donald Trump dapat memanfaatkan cadangan minyak strategis AS untuk meredam lonjakan harga. Saat ini, Strategic Petroleum Reserve menyimpan sekitar 415 juta barel minyak.

Namun para analis menekankan bahwa durasi dan skala krisis akan menentukan dampaknya. Jika gangguan berlangsung lama dan meluas, cadangan strategis mungkin tidak cukup untuk menstabilkan pasar. Dalam situasi tersebut, harga minyak harus naik cukup tinggi untuk menekan permintaan, yang pada akhirnya bisa menyeret ekonomi global ke jurang resesi.

Serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk juga meningkatkan tekanan pada perusahaan asuransi kapal tanker. Premi asuransi dapat melonjak tajam atau bahkan dihentikan, sehingga lalu lintas energi di kawasan tersebut semakin terhambat.

Dengan eskalasi yang terus berkembang, pasar energi global kini menghadapi risiko terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Jika ketegangan tidak segera mereda, dampaknya tidak hanya terasa pada harga energi, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi dunia.

Sumber: CNBC

Baca juga: Suku Bunga The Fed Tetap, Ekonomi AS Makin Stabil