Fed Tahan Suku Bunga: Sinyal Pause dan Data Jadi Kunci

The Fed Hold Rates

The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga

Fed tahan suku bunga jadi tema besar pekan ini, karena The Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan tetap di level saat ini setelah tiga kali pemangkasan di akhir 2025. Pasar sekarang tidak hanya menunggu keputusan, tetapi juga menunggu “berapa lama” jeda itu akan berlangsung.

Banyak pejabat The Fed belakangan ini memakai frasa yang sama: “policy is in a good place.” Artinya, kebijakan moneter dianggap sudah cukup pas untuk memberi ruang manuver. Dengan kata lain, The Fed ingin tetap fleksibel dan mengambil keputusan per rapat, bukan mengunci arah kebijakan dari sekarang.


The Fed Diprediksi Pause Setelah Tiga Kali Pemangkasan

Pada akhir 2025, The Fed memangkas suku bunga tiga kali hingga berada di kisaran 3,5%–3,75%. Level ini dinilai dekat dengan “netral”, yaitu kondisi ketika kebijakan moneter tidak terlalu mendorong ekonomi, tetapi juga tidak menahannya secara agresif.

Esther George, mantan Presiden Kansas City Fed, memperkirakan The Fed akan memberi sinyal pause. Menurutnya, mereka cenderung menahan suku bunga untuk sementara waktu dan memilih pendekatan yang lebih hati-hati.

Sementara itu, Wilmer Stith dari Wilmington Trust melihat pertemuan kali ini akan berlangsung “short and sweet”. Ia menilai tidak akan ada banyak aksi selain menahan suku bunga, karena The Fed sekarang bisa bersikap sabar sambil membaca data terbaru.


Fokus Utama: Inflasi dan Pasar Tenaga Kerja

Meski suku bunga sudah mendekati netral, The Fed masih menghadapi pekerjaan rumah: inflasi belum kembali ke target 2%. Saat ini, inflasi masih lebih dekat ke 3% daripada 2%, sehingga pemangkasan lanjutan butuh bukti yang lebih kuat.

Gregory Daco (EY-Parthenon) menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga berikutnya akan sangat bergantung pada data. Jika inflasi benar-benar turun atau pasar tenaga kerja melemah lagi, peluang pemangkasan akan terbuka.

Daco memproyeksikan pemangkasan sekitar 50 bps di 2026, tetapi kemungkinan baru terjadi pada paruh kedua tahun. Ia juga memperkirakan inflasi bergerak sedikit di bawah 3% pada paruh pertama, lalu melandai menuju sekitar 2,5% menjelang akhir tahun.


“Dispersion” di Komite: Tidak Semua Sepakat

Walau pasar berharap suku bunga turun lagi, internal The Fed tidak sepenuhnya solid. Ada perbedaan pandangan yang cukup tajam mengenai seberapa cepat inflasi bisa turun dan seberapa kuat pasar tenaga kerja bertahan.

Esther George menyebut adanya “dispersion on the committee”, yang menandakan proses pemangkasan ke depan akan lebih sulit. Komite membutuhkan bukti inflasi yang benar-benar meyakinkan, bukan hanya perbaikan kecil dari beberapa komponen.

Risalah rapat Desember juga menunjukkan sebagian anggota menyetujui pemangkasan terakhir dengan cukup berat hati. Selain itu, rotasi anggota voting baru seperti Beth Hammack, Lorie Logan, dan Neel Kashkari berpotensi memperkuat kubu yang ingin menahan suku bunga lebih lama demi menekan inflasi.

Di sisi lain, Fed Governor Stephen Miran diperkirakan kembali berbeda pendapat karena ia cenderung mendukung pemangkasan lebih cepat. Michelle Bowman dan Chris Waller juga berpotensi mengambil posisi lebih dovish karena kekhawatiran terhadap kondisi tenaga kerja.

Bowman bahkan menegaskan The Fed harus siap menyesuaikan kebijakan bila pasar tenaga kerja memburuk, dan sebaiknya tidak memberi sinyal pause jika kondisi belum jelas berubah.


Data Tenaga Kerja Jadi “Game Changer”

Luke Tilley dari Wilmington Trust punya pandangan yang lebih agresif. Ia tidak memperkirakan pemangkasan terjadi pekan ini, tetapi ia menilai data sebenarnya sudah mendukung pemangkasan karena pertumbuhan pekerjaan mulai melemah.

Ia mengutip pernyataan Jerome Powell pada Desember yang menyebut laporan pekerjaan terbaru bisa saja terlalu tinggi sekitar 60.000. Jika koreksi itu benar, maka pertumbuhan lapangan kerja sebenarnya sudah mendekati negatif.

Tilley juga menyoroti bahwa di luar sektor healthcare, beberapa sektor lain mulai mengurangi tenaga kerja sejak Presiden Trump menerapkan tarif besar pada musim semi lalu. Ia memperkirakan tingkat pengangguran bisa naik lagi menuju 4,9%–5% pada pertengahan tahun.

Karena itu, Tilley memperkirakan The Fed bisa memangkas suku bunga tiga kali mulai Maret hingga pertengahan tahun, menuju kisaran 2,75%–3% yang ia anggap netral.


Tekanan Politik Membayangi The Fed

Pertemuan ini juga berlangsung di tengah tekanan politik yang makin panas pada periode kedua pemerintahan Trump. Ketegangan meningkat setelah muncul kasus di Mahkamah Agung terkait wewenang Presiden Trump untuk mencopot Fed Governor Lisa Cook, serta adanya investigasi kriminal terhadap Powell terkait kesaksiannya di Senat mengenai renovasi kantor pusat bank sentral.

Selain itu, Presiden juga bisa mengumumkan kandidat Ketua The Fed berikutnya minggu ini. Nama Rick Rieder dari BlackRock bahkan disebut menguat sebagai kandidat favorit berdasarkan peluang pasar prediksi.

Sebagian pihak menilai tekanan eksternal ini bisa membuat The Fed justru lebih keras kepala dan menahan pemangkasan. Namun, Fed Governor Michael Barr menegaskan bank sentral bertindak murni berdasarkan mandat ekonomi: stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum, bukan karena tekanan politik.


Kesimpulan: Pasar Menunggu Nada Powell, Bukan Sekadar Angka

Fed tahan suku bunga hampir menjadi skenario utama pekan ini, tetapi yang paling penting justru komunikasi The Fed. Pasar akan membaca apakah Jerome Powell benar-benar menegaskan jeda panjang, atau tetap membuka pintu pemangkasan jika data melemah.

Jika inflasi melandai dengan jelas, pemangkasan bisa kembali berjalan. Namun jika inflasi bertahan dan komite tetap terpecah, The Fed kemungkinan memilih strategi “wait and see” lebih lama.

Untuk trader dan investor, kuncinya sederhana: pantau data tenaga kerja, arah inflasi, dan nada The Fed. Karena di fase seperti ini, kalimat Powell bisa menggerakkan pasar sama besar seperti keputusan suku bunganya.

Baca juga: Week Ahead Pasar Global: Fed, Big Tech, dan Logam Mulia

Sumber: Yahoo Finance