Week Ahead: Koreksi Dolar AS Masuki Fase Akhir

Weekly Outlook - Kepoin Trading

Gambaran Umum Pekan Depan di Pasar Global

Koreksi dolar AS yang berlangsung sejak periode Natal diperkirakan sudah memasuki fase akhir. Sepanjang pekan lalu, dolar AS bergerak konsolidatif terhadap mayoritas mata uang G10, namun tetap mempertahankan bias menguat. Kombinasi data ekonomi AS yang relatif solid dan meredanya upaya terbaru pemerintahan AS untuk memengaruhi kebijakan Federal Reserve mendukung pergerakan tersebut.

Yen Jepang berhasil distabilkan melalui intervensi verbal otoritas, meski belum menghasilkan pemulihan signifikan. Setelah sempat menyentuh level terendah sejak Juli 2024, yen menutup pekan hampir tidak berubah. Langkah verbal ini dinilai cukup efektif untuk sementara waktu, sekaligus mengurangi urgensi intervensi langsung di pasar valuta asing.


Amerika Serikat: Fokus pada The Fed dan Risiko Politik

Upaya Departemen Kehakiman AS yang menyelidiki kesaksian Ketua The Fed Jerome Powell sempat memicu volatilitas, namun dampaknya terhadap kebijakan moneter dinilai minimal. Dukungan bipartisan terhadap independensi The Fed tetap kuat, sehingga risiko perubahan kebijakan akibat tekanan politik relatif rendah.

Pasar derivatif masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga setidaknya hingga akhir kuartal kedua. Saat ini, pasar hanya memperhitungkan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, meskipun proyeksi FOMC pada Desember lalu menunjukkan median hanya satu kali pemangkasan. Korelasi pergerakan Dollar Index dan yield US Treasury tenor dua tahun dalam 30–60 hari terakhir berada di kisaran 0,38–0,40, termasuk yang terendah dalam delapan bulan terakhir.


Data AS: Lebih Banyak Risiko Headline

Inflasi utama Desember sudah tercermin dalam rilis CPI dan PPI, sehingga pasar menilai data PCE November tidak lagi krusial. Analis kini lebih memfokuskan perhatian pada data pendapatan dan konsumsi rumah tangga untuk menyempurnakan proyeksi PDB kuartal keempat. Revisi PDB kuartal ketiga yang dijadwalkan rilis pada 22 Januari juga diperkirakan hanya memberikan dampak terbatas terhadap pasar.

Pasar juga akan mencermati rilis PMI awal Januari. Namun, pelaku pasar tetap memberi bobot lebih besar pada survei ISM sebagai indikator aktivitas ekonomi AS. Di sisi lain, Presiden AS dijadwalkan menyampaikan pidato dalam World Economic Forum di Davos pada 19–23 Januari. Pernyataan kebijakan yang muncul dari forum tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar global.


Pergerakan Harga Dolar AS

Secara teknikal, dolar AS masih berada dalam fase koreksi naik dari penurunan November di sekitar 100,40 menuju titik terendah Natal di sekitar 97,75. Pekan lalu, Dollar Index sedikit melampaui target retracement 61,8% di area 99,40. Indikator momentum tetap konstruktif, namun mulai menunjukkan kondisi jenuh.

Kenaikan lanjutan masih memungkinkan dalam jangka sangat pendek, tetapi pasar mulai mencari pola pembalikan sebagai sinyal bahwa puncak koreksi telah terbentuk.


Zona Euro: Data Neraca dan Sentimen Jadi Sorotan

Euro mendapatkan dukungan setelah ketegangan antara pemerintahan AS dan Federal Reserve meningkat. Namun, pasar menekan euro sebelumnya seiring pelebaran selisih yield dua tahun AS terhadap Jerman dari sekitar 133 basis poin menjadi 147 basis poin.

Pekan ini, zona euro akan merilis data neraca berjalan November dan survei ZEW Jerman. Zona euro mencatat surplus neraca berjalan rata-rata €26,4 miliar per bulan hingga Oktober, meskipun angka tersebut menyusut sekitar 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, PMI awal Januari akan menjadi indikator penting untuk menilai keberlanjutan pemulihan ekonomi.


Tiongkok: Yuan Mendekati Target Psikologis

Bank Sentral Tiongkok terus mengarahkan yuan menguat secara bertahap. PBOC menetapkan fixing dolar mendekati CNY 7,00, level yang sejak lama pasar anggap sebagai target kebijakan. Dengan rentang perdagangan ±2% dari fixing, level ini membuka ruang bagi dolar untuk bergerak hingga sekitar CNY6,86.

Meski inflasi Desember mencatat level tertinggi hampir tiga tahun, penguatan yuan tetap memberi ruang bagi PBOC untuk melonggarkan kebijakan demi mendukung ekonomi. Pasar juga menanti rilis PDB kuartal keempat, yang berpotensi menempatkan pertumbuhan ekonomi 2025 di sekitar 5%.


Jepang: BOJ dan Risiko Pemilu Dini

Korelasi antara USD/JPY dan yield obligasi AS kembali menguat setelah sempat melemah tajam di akhir 2025. Otoritas Jepang menahan pelemahan yen melalui ancaman intervensi, sementara kekhawatiran AS ikut membatasi dolar di bawah area 158 menjelang akhir pekan.

Rapat Bank of Japan pekan ini diperkirakan mempertahankan kebijakan, meskipun proyeksi ekonomi baru akan dirilis. Isu pemilu dini tetap menjadi faktor risiko, karena mandat politik yang kuat secara historis cenderung berdampak negatif bagi yen.


Inggris, Kanada, dan Australia: Data Padat Menentukan Arah

Inggris menghadapi pekan penting dengan rilis data tenaga kerja, inflasi, dan penjualan ritel. Meski inflasi Inggris termasuk tertinggi di G10, pasar tetap memperkirakan Bank of England akan menunda pemangkasan suku bunga hingga kuartal kedua.

Di Kanada, dolar Kanada bergerak sejalan dengan Dollar Index, sementara pasar memperkirakan jeda kebijakan moneter yang panjang. Australia justru mencatat kinerja terbaik di antara mata uang G10 awal tahun ini, meski tekanan teknikal mulai muncul seiring pelemahan indikator momentum.


Kesimpulan: Pasar Bersiap Hadapi Titik Balik

Secara keseluruhan, koreksi dolar AS tampak mendekati fase akhir. Data ekonomi, kebijakan bank sentral, dan dinamika geopolitik akan menjadi pemicu utama volatilitas pekan depan. Dengan indikator teknikal mulai jenuh, pasar kini lebih selektif dan menunggu sinyal arah baru yang lebih jelas.

Baca juga: Fed Terbelah Hadapi Inflasi dan Pasar Kerja 2026

Sumber: Marc to Market