NFP Desember 2025 Jadi Fokus Pasar Global
NFP Desember 2025 menjadi rilis data tenaga kerja paling krusial tahun ini karena memberi gambaran pertama kondisi pasar kerja AS sejak September. Laporan ini akan sangat memengaruhi strategi Federal Reserve (Fed) dalam menentukan arah suku bunga sepanjang 2026.
Data ini akan menguji apakah pemangkasan suku bunga sebesar 75 basis poin sejak September memang tepat, atau justru terlalu agresif. Reaksi pasar diperkirakan signifikan karena ekspektasi pelaku pasar saat ini jauh lebih dovish dibandingkan proyeksi resmi Fed.
Rilis Dua Bulan Sekaligus dan Distorsi Data
Keunikan NFP Desember 2025 terletak pada rilis data dua bulan sekaligus, yaitu Oktober dan November. Namun, pasar hampir sepenuhnya mengabaikan data Oktober yang diperkirakan mencatat penurunan sekitar 10.000 pekerjaan.
Penurunan ini bukan cerminan pelemahan ekonomi, melainkan efek teknis dari penundaan tanggal pengunduran diri pegawai federal akibat government shutdown. Fokus utama investor tertuju pada angka November yang diperkirakan hanya menambah sekitar 50.000 pekerjaan, jauh lebih rendah dibandingkan 119.000 pada September.
Risiko kejutan tetap tinggi, terutama setelah laporan ADP menunjukkan hilangnya 32.000 pekerjaan sektor swasta.
Average Hourly Earnings Jadi Indikator Kunci Fed
Dalam kondisi data yang terdistorsi, Fed lebih memprioritaskan Average Hourly Earnings (AHE) sebagai pengukur tekanan inflasi. AHE diperkirakan naik 0,3% secara bulanan, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 3,7%.
Karena tingkat pengangguran saat ini kurang reliabel, AHE menjadi sinyal paling jelas untuk menilai seberapa ketat pasar tenaga kerja dan seberapa besar risiko inflasi ke depan.
Lonjakan Tingkat Pengangguran Bersifat Sementara
Pemerintah tidak merilis tingkat pengangguran Oktober akibat gangguan pengumpulan data. Untuk November, tingkat pengangguran diperkirakan melonjak ke kisaran 4,5%–4,7%.
Namun, pasar menilai lonjakan ini hanya efek sementara. Pegawai federal yang terkena furlough selama government shutdown akan tercatat sebagai pengangguran meski kondisi ekonomi riil tidak memburuk. Karena itu, investor cenderung mengabaikan angka ini dan tetap fokus pada payroll dan AHE.
Perbedaan Pandangan Pasar dan Fed untuk 2026
NFP Desember 2025 juga menjadi pemicu potensi repricing besar di pasar. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga tambahan hingga September 2026. Sebaliknya, Dot Plot Fed hanya mengindikasikan satu kali pemangkasan sepanjang 2026.
Jika data November lebih kuat dari ekspektasi, pasar akan dipaksa menyesuaikan ekspektasinya dan mendekati sikap Fed yang lebih hati-hati. Kondisi ini menjadikan laporan NFP sebagai penentu utama arah kebijakan moneter awal 2026.
Dampak ke USD, Emas, dan Pasar Global
Reaksi pasar terhadap NFP Desember 2025 sangat bergantung pada selisih data terhadap konsensus:
- Dolar AS (DXY) berpotensi menguat tajam jika data lebih solid dari perkiraan, mengingat posisi USD saat ini relatif rendah.
- Emas memiliki potensi naik dalam berbagai skenario, baik saat data lemah maupun saat volatilitas meningkat akibat repricing suku bunga.
- EUR/USD dan GBP/USD cenderung bergerak konsolidatif sambil menunggu kejelasan arah kebijakan Fed.
- USD/JPY tetap sensitif terhadap kombinasi data AS dan ekspektasi kebijakan hawkish Bank of Japan.
- AUD/USD dan USD/CAD bergerak terbatas seiring fokus pasar yang sepenuhnya tertuju pada data AS.
Kesimpulan
NFP Desember 2025 bukan sekadar laporan tenaga kerja biasa. Data ini menjadi fondasi utama ekspektasi suku bunga Fed, pemicu volatilitas pasar, dan penentu arah USD serta emas pada awal 2026. Karena distorsi data cukup besar, investor perlu lebih selektif membaca detail payroll dan pertumbuhan upah dibandingkan hanya melihat headline angka pengangguran.
Baca juga: Fed Rate Cut 2026: Dampak ke Tabungan dan Pinjaman
Sumber: marketpulse.com
