Harga minyak mengalami lonjakan pada Jumat setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menerapkan lebih banyak sanksi terhadap Rusia jika tidak ada kesepakatan damai dengan Ukraina. Meskipun demikian, harga minyak berjangka masih mencatatkan penurunan lebih dari 3% sepanjang minggu ini, seiring ekspektasi peningkatan pasokan bulan depan serta ketidakpastian terkait kebijakan tarif perdagangan Trump.
Pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertahan di atas $67 per barel, sementara minyak Brent diperdagangkan di atas $70 per barel. Sebelumnya, harga sempat melonjak setelah Trump menuliskan di Truth Social bahwa ia sedang mempertimbangkan sanksi besar terhadap sektor perbankan Rusia, tarif tambahan, dan langkah-langkah ekonomi lainnya hingga tercapai gencatan senjata serta kesepakatan damai final.
Sementara itu, laporan media yang mengutip sumber di Moskow mengindikasikan bahwa Rusia terbuka untuk membahas gencatan senjata sementara jika ada kemajuan menuju kesepakatan damai yang lebih permanen.
Di sisi lain, awal pekan ini harga minyak sempat jatuh ke level terendah dalam beberapa tahun setelah OPEC dan sekutunya (OPEC+) mengejutkan pasar dengan mengumumkan rencana peningkatan produksi pada bulan April. Langkah ini dianggap sebagai tahap awal untuk mengakhiri pemangkasan produksi yang telah diterapkan sebelumnya.
Selain itu, kekhawatiran akan perang dagang yang lebih luas akibat kebijakan tarif AS terhadap mitra dagangnya turut membebani pasar. Investor di Wall Street mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi global akibat kebijakan ini.
Menurut Natasha Kaneva, kepala riset strategi komoditas global di JPMorgan, perlambatan pertumbuhan PDB sebesar 100 basis poin di AS dan China dapat menyebabkan penurunan permintaan minyak global hingga 250.000 barel per hari.
Sementara itu, Gedung Putih memberikan pengecualian tarif hingga 2 April untuk beberapa barang dan jasa dari Kanada serta Meksiko. Langkah ini menyusul keputusan penundaan tarif selama satu bulan bagi produsen otomotif seperti Ford, GM, dan Stellantis, setelah sebelumnya pemerintah AS menerapkan tarif 25% terhadap Kanada dan Meksiko pada Selasa.
Sumber: Yahoo Finance

