Pasar Forex Jumat: Dolar Menguat, Minyak Memanas

Lagarde ECB - Kepoin Trading

Pasar Forex Jumat: Tunggu Data CPI AS

Pasar forex Jumat bergerak hati-hati setelah dolar AS menguat pada perdagangan Kamis. Investor kini menunggu data inflasi Amerika Serikat yang menjadi salah satu penentu arah kebijakan Federal Reserve berikutnya. No rush, but no sleep either.

Data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Agustus menjadi perhatian utama. Pasar memperkirakan inflasi tahunan berada di 3,4%, sementara core CPI diproyeksikan naik 0,2% secara bulanan.

Selain CPI, pasar juga menunggu data awal Consumer Sentiment dari University of Michigan untuk September. Kombinasi data inflasi dan sentimen konsumen dapat memberikan gambaran baru mengenai kondisi ekonomi AS.

Dolar AS Menguat Setelah PPI Panas

Dolar AS memperoleh tenaga tambahan setelah data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat menunjukkan kenaikan lebih tinggi dari perkiraan.

PPI naik 5,4% secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut meningkat dari 4,8% pada Juli dan berada di atas ekspektasi pasar sebesar 5,3%.

Data tersebut langsung mengubah suasana perdagangan. Dollar Index naik sekitar 0,3% pada Kamis dan kini bergerak sideways di sekitar 99,00.

Kenaikan harga minyak juga ikut membantu dolar. Oil is back in the room, dan kali ini membawa masalah inflasi bersamanya.

Jika CPI AS kembali menunjukkan tekanan harga yang kuat, ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve dapat berubah. Pasar saat ini masih melihat ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga.

Harga Minyak Kembali Menjadi Masalah

Lonjakan harga energi menjadi salah satu cerita terbesar dalam pasar forex Jumat.

Harga West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 7% pada Kamis dan sempat menembus US$100 per barel. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak akhir Mei.

Pada perdagangan Jumat pagi, WTI terkoreksi dan bergerak sekitar US$97,50 per barel. Namun, koreksi tersebut belum menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan.

Brent bahkan sempat melonjak ke sekitar US$109,97 per barel. Harga tersebut membawa kenaikan mingguan hampir 13%.

Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama. Lalu lintas tanker melalui Teluk Persia masih terganggu setelah terjadi pertukaran serangan antara pasukan Amerika Serikat dan aset militer Iran.

Di saat yang sama, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman. Perkembangan ini meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran di Laut Merah dan kawasan Bab al-Mandeb.

Risiko Hormuz Menghidupkan Kekhawatiran Inflasi

Danske Bank melihat kenaikan harga minyak sebagai sumber tekanan inflasi baru bagi ekonomi global.

Bank tersebut menilai pasar mulai menyadari bahwa gangguan di Selat Hormuz tidak mudah hilang dalam waktu singkat. Ketidakpastian terhadap jalur pengiriman energi membuat risiko pasokan minyak semakin tinggi.

Selat Hormuz sangat penting bagi perdagangan energi global. Jika gangguan berlangsung lebih lama, biaya pengiriman dan harga minyak dapat meningkat.

Efek berikutnya cukup jelas. Harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong inflasi. Bank sentral kemudian menghadapi pilihan yang tidak nyaman: mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau menghadapi risiko pertumbuhan ekonomi yang melemah.

Welcome back, stagflation.

The Fed Masih Diperkirakan Menahan Suku Bunga

Commerzbank masih mempertahankan proyeksi bahwa Federal Reserve tidak menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Bank tersebut memperkirakan The Fed mempertahankan target suku bunga pada kisaran 3,50%-3,75%.

Namun, risiko perubahan arah tetap terbuka. Jika inflasi Agustus kembali menunjukkan tekanan yang lebih tinggi, pasar dapat mulai memperhitungkan kebijakan yang lebih ketat.

Tekanan politik terhadap The Fed juga menjadi perhatian. Karena itu, pasar menghadapi kombinasi yang cukup rumit antara data ekonomi, harga energi, dan faktor politik.

Untuk saat ini, skenario Fed pause masih menjadi dasar utama pasar. Tetapi data CPI bisa mengubah cerita dengan cepat.

ECB Memberi Sinyal Hati-Hati

Di Eropa, European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sesuai ekspektasi pasar. ECB juga menaikkan proyeksi inflasi untuk 2027 dan 2028.

Presiden ECB Christine Lagarde menyampaikan pesan yang relatif kuat mengenai kondisi ekonomi kawasan Euro.

Lagarde menyoroti pertumbuhan ekonomi yang masih tangguh, pasar tenaga kerja yang kuat, serta membaiknya prospek jangka pendek. Aktivitas manufaktur mulai membaik, sektor jasa mengalami pemulihan, kepercayaan konsumen meningkat, dan investasi memberikan dukungan terhadap pertumbuhan.

Namun, ECB juga melihat inflasi headline masih berada di atas target hingga paruh pertama 2027.

Risiko kenaikan harga energi dan pangan menjadi perhatian karena tekanan tersebut dapat merembet ke inflasi inti.

Pesan Lagarde membuat pasar melihat peluang pelonggaran moneter agresif semakin kecil. Higher for longer masih menjadi tema yang relevan di Eropa.

EUR/USD Tertekan Penguatan Dolar

EUR/USD mengalami tekanan pada Kamis setelah dolar AS menguat secara luas.

Pasangan mata uang ini masih menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Dari sisi Eropa, ECB memberikan sinyal cukup hawkish. Namun dari sisi AS, data PPI yang panas membuat dolar kembali mendapat dukungan.

Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada data CPI AS. Jika inflasi Amerika kembali lebih tinggi dari perkiraan, dolar berpotensi mendapatkan dorongan tambahan.

Sebaliknya, jika CPI menunjukkan perlambatan, tekanan terhadap EUR/USD dapat berkurang.

This is where the CPI plot twist begins.

USD/JPY Bertahan di Atas 154

USD/JPY berhasil rebound lebih dari 0,5% pada Kamis. Pada sesi Eropa Jumat, pasangan ini masih berkonsolidasi di atas 154,00.

Penguatan dolar memberikan dukungan terhadap USD/JPY. Namun, pergerakan yen tetap sensitif terhadap perkembangan pasar obligasi Jepang dan ekspektasi kebijakan moneter Bank of Japan.

Dengan imbal hasil obligasi global kembali menjadi perhatian, USD/JPY masih berpotensi bergerak volatil.

Untuk trader, level 154 menjadi area psikologis yang menarik untuk diperhatikan. Above 154, the bulls are still breathing.

Emas Tertekan Kenaikan Yield AS

Harga emas mengalami tekanan cukup berat pada Kamis.

XAU/USD kehilangan hampir 2% setelah imbal hasil Treasury AS meningkat menyusul data PPI. Kenaikan yield membuat aset yang tidak memberikan bunga seperti emas menjadi relatif kurang menarik.

Pada Jumat, emas mencoba melakukan koreksi dan bergerak di sekitar US$4.350.

Pergerakan emas selanjutnya sangat bergantung pada hubungan antara dolar, yield Treasury, inflasi AS, dan risiko geopolitik.

Menariknya, situasi geopolitik biasanya mendukung emas. Namun ketika kenaikan harga minyak mendorong inflasi dan yield Treasury ikut naik, emas justru bisa mendapatkan tekanan.

Safe haven versus higher yields. Pick your fighter.

GBP/USD Masih Bertahan di Atas 1,3500

GBP/USD relatif stabil di atas 1,3500 setelah mengalami penurunan moderat pada Kamis.

Pound masih mendapat perhatian dari perkembangan ekonomi Inggris, tetapi untuk jangka pendek pergerakan dolar menjadi faktor yang lebih dominan.

Jika data CPI AS lebih panas dari perkiraan, GBP/USD berpotensi kembali mendapatkan tekanan.

Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dapat membuka ruang bagi pelemahan dolar dan membantu pasangan ini melakukan pemulihan.

Bursa Eropa Menghadapi Tekanan

Tekanan tidak hanya terlihat di pasar valuta asing. Bursa saham Eropa juga berada dalam kondisi kurang nyaman.

Stoxx Europe 600 bergerak dekat level terendah dalam delapan pekan. Indeks tersebut menuju penurunan mingguan lebih dari 2%, yang menjadi performa mingguan terburuk dalam lima bulan.

DAX Jerman dan CAC 40 Prancis masing-masing naik sekitar 0,3% dan 0,5%. FTSE 100 Inggris juga naik sekitar 0,1%.

Namun, kenaikan harian tersebut belum mengubah gambaran besar. Investor masih menghadapi kombinasi suku bunga tinggi dan harga energi yang melonjak.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stagflation squeeze di Eropa.

Fokus Pasar Jumat: CPI dan Harga Minyak

Secara keseluruhan, pasar forex Jumat memasuki sesi penting dengan tiga tema utama.

Pertama, inflasi AS. Data CPI akan menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve.

Kedua, harga minyak. Lonjakan Brent dan WTI meningkatkan risiko tekanan inflasi global, terutama jika gangguan pengiriman energi bertahan lebih lama.

Ketiga, risiko geopolitik. Gangguan di Selat Hormuz dan Laut Merah membuat pasar semakin sensitif terhadap berita mengenai jalur perdagangan dan pasokan energi.

Untuk trader, volatilitas berpotensi meningkat ketika data CPI AS dirilis. Karena itu, mengandalkan satu indikator saja mungkin bukan strategi terbaik.

Dolar, yield Treasury, minyak, emas, dan indeks saham kini saling terhubung lebih erat.

One market moves, the others usually send a WhatsApp.

Perhatian utama hari ini tetap pada CPI AS. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, dolar dan yield berpotensi mendapatkan dukungan. Jika inflasi lebih rendah, pasar dapat kembali meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed.

Sementara itu, perkembangan harga minyak tetap menjadi variabel penting. Selama risiko gangguan pasokan energi belum mereda, isu inflasi kemungkinan masih menghantui pasar global.

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi dan informasi umum, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset. Trading memiliki risiko dan setiap keputusan tetap menjadi tanggung jawab masing-masing trader.

Baca juga: ECB dan PPI AS Jadi Fokus Pasar Forex Hari Ini

Sumber: FXStreet Investing.com