Pasar saham global mengakhiri Agustus dengan hati-hati setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Kenaikan harga minyak ikut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan arah suku bunga bank sentral utama.
Harga minyak Brent naik lebih dari 2% dan kembali berada di atas US$90 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah pasukan Amerika Serikat menyerang peluncur rudal Iran di Pulau Larak. Iran kemudian membalas dengan menyerang pasukan AS di Yordania.
Situasi tersebut membuat investor kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi. Ketegangan di kawasan Teluk juga meningkatkan perhatian pasar terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu perhatian utama pasar. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan membuat bank sentral lebih sulit melonggarkan kebijakan moneter.
Kondisi itu semakin kuat setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pandangan hawkish dalam pertemuan Jackson Hole. Warsh menegaskan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan untuk memastikan inflasi bergerak menuju target 2%.
Pasar kemudian meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 60%. Perubahan ekspektasi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS, terutama tenor jangka pendek.
Barclays bahkan memperkirakan The Fed dapat menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September dan kembali menaikkannya pada Desember.
Imbal Hasil Obligasi Kembali Naik
Kenaikan ekspektasi suku bunga tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang dan Jerman juga bergerak naik.
Yield obligasi pemerintah Jepang tenor dua tahun mencapai level tertinggi dalam 31 tahun. Sementara itu, yield obligasi Jerman tenor dua tahun menyentuh level tertinggi sejak Juli 2024.
Di Amerika Serikat, yield Treasury dua tahun berada di sekitar 4,34%. Yield Treasury 10 tahun juga naik ke sekitar 4,73%. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar mulai memperhitungkan periode suku bunga tinggi yang lebih panjang.
Kenaikan yield dapat memberi tekanan terhadap saham, terutama sektor yang memiliki valuasi tinggi. Biaya pendanaan yang lebih mahal juga dapat mengurangi daya tarik aset berisiko.
Pasar Saham Global Bergerak Terbatas
Pasar saham global bergerak mixed pada awal pekan. Indeks STOXX 600 Eropa turun tipis, sementara kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak datar hingga sedikit melemah.
Di Asia, Nikkei Jepang turun tipis. Saham-saham unggulan China sempat tertekan sebelum kembali menguat. Data menunjukkan aktivitas manufaktur China membaik pada Agustus, meski sektor jasa masih menghadapi tekanan.
Bursa Eropa juga menghadapi tekanan dari kenaikan yield obligasi. Indeks DAX Jerman melemah karena investor menunggu data inflasi yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan European Central Bank.
Meski demikian, sektor energi mendapat keuntungan dari lonjakan harga minyak. Saham perusahaan energi di Eropa bergerak menguat seiring kenaikan harga minyak mentah.
Data Ekonomi AS Jadi Perhatian
Investor kini mengalihkan perhatian pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Data tenaga kerja dan inflasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan The Fed pada September.
Pasar memperkirakan pertumbuhan payrolls Agustus akan mencapai sekitar 58.000 setelah penurunan 23.000 pada Juli. Tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di 4,1%.
Data yang jauh lebih lemah dari perkiraan dapat mengurangi peluang kenaikan suku bunga pada September. Sebaliknya, data tenaga kerja dan inflasi yang kuat dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Yen Kembali Tertekan
Pergerakan yen juga menjadi perhatian pasar. Nilai tukar dolar AS terhadap yen kembali mendekati level 160.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pergerakan yen masih cukup terkendali. Ia juga menyampaikan rencana bertemu dengan pimpinan Bank of Japan di tengah spekulasi bahwa bank sentral Jepang dapat menaikkan suku bunga pada September.
Pelemahan yen yang terlalu tajam dapat meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan intervensi Jepang. Namun, Bessent menilai pergerakan tersebut belum menunjukkan kondisi yang cukup tidak teratur untuk memicu intervensi bersama seperti sebelumnya.
Emas Masih Menguat Sepanjang Agustus
Harga emas ikut mendapat tekanan dari kenaikan yield obligasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Harga emas turun sekitar 0,3% ke area US$4.437 per ounce pada Senin.
Sebelumnya, emas mengalami tekanan lebih besar setelah pidato hawkish Warsh mendorong kenaikan yield obligasi. Namun, secara bulanan emas masih mencatat kenaikan sekitar 10% sepanjang Agustus.
Pergerakan emas selanjutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara risiko geopolitik dan kebijakan moneter. Eskalasi konflik dapat meningkatkan permintaan aset safe haven. Sebaliknya, kenaikan yield dan ekspektasi suku bunga dapat membatasi ruang penguatan emas.
Pasar Masuk September dengan Risiko Tinggi
Pasar saham global memasuki September dengan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor. Konflik AS-Iran, harga minyak, inflasi, dan arah kebijakan The Fed akan menjadi faktor utama yang menentukan sentimen.
Pertemuan menteri keuangan dan bank sentral negara-negara G20 juga menjadi perhatian. Para pejabat akan membahas inflasi, suku bunga, pertumbuhan ekonomi, serta dampak meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dengan kombinasi risiko tersebut, volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi pada awal September. Investor akan mencermati data ekonomi AS sekaligus perkembangan konflik di Timur Tengah sebelum menentukan arah posisi berikutnya.
Baca berita lainnya: Dolar AS Tertekan, Pasar Tunggu Data NFP
Sumber: Yahoo Finance
