Dolar AS sedikit melemah pada perdagangan Asia di awal pekan. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama, terkoreksi sekitar 0,1% ke area 99,58 setelah menguat tajam pada perdagangan Jumat.
Dolar AS Tertekan Setelah Pernyataan Fed
Dolar AS sebelumnya mendapat dorongan kuat setelah Ketua Federal Reserve (Fed) Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa bank sentral masih fokus menekan inflasi menuju target 2%.
Berbicara dalam Jackson Hole Symposium, Kevin Warsh menilai data inflasi musim panas memang lebih baik dari perkiraan. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menunjukkan perubahan berarti pada tren inflasi yang mendasarinya.
Menurut Warsh, fokus utama Fed saat ini tetap berada pada perkembangan harga. Pernyataan tersebut mendorong pasar untuk kembali memperhitungkan kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga pada pertemuan Fed September.
Ekspektasi pasar terhadap keputusan Fed ikut berubah cukup signifikan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September kini berada di sekitar 39,4%. Angka tersebut turun dari hampir 60% pada pekan sebelumnya.
Data NFP Jadi Perhatian Utama Pasar
Perhatian investor kini beralih ke sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang pekan. Salah satu data yang paling dinantikan adalah Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat.
Data ketenagakerjaan tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Fed. Jika pertumbuhan lapangan kerja menunjukkan kondisi yang kuat, pasar dapat melihat ruang yang lebih kecil bagi Fed untuk melonggarkan kebijakan.
Sebaliknya, data tenaga kerja yang melemah dapat meningkatkan kembali harapan terhadap pelonggaran kebijakan. Kondisi tersebut berpotensi membatasi penguatan dolar terhadap mata uang utama lainnya.
Ketegangan AS-Iran Dorong Harga Minyak
Selain kebijakan moneter, pasar juga menghadapi risiko geopolitik yang kembali meningkat. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak naik tajam pada awal pekan.
Harga WTI melonjak sekitar 2% ke area $84,35 setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam serangkaian serangan pada akhir pekan.
Menurut laporan Bloomberg, US Central Command (CENTCOM) menyerang peluncur roket Iran yang diduga bersiap mengirim ranjau ke kawasan Selat Hormuz. Serangan tersebut terjadi setelah periode relatif tenang selama beberapa pekan.
Iran kemudian merespons dengan serangan rudal balistik yang dilancarkan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) terhadap dua pangkalan Amerika Serikat di Yordania. Serangan tersebut menjadi respons atas serangan Amerika Serikat ke Pulau Larak.
Pasar Cermati Risiko Inflasi dari Minyak
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian tambahan bagi pasar karena dapat meningkatkan tekanan inflasi global. Bagi Federal Reserve, lonjakan harga energi dapat membuat proses penurunan inflasi menuju target 2% menjadi lebih sulit.
Situasi tersebut membuat arah Dolar AS pada pekan ini akan sangat bergantung pada kombinasi data ekonomi dan perkembangan geopolitik. Data NFP menjadi katalis utama dari sisi ekonomi, sementara ketegangan AS-Iran menjadi faktor risiko dari sisi global.
Dengan demikian, pasar akan mencermati pergerakan DXY sekaligus perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Fed. Pergerakan Dolar AS juga berpotensi tetap volatil jika data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan konflik di Timur Tengah memberikan sinyal yang berbeda.
Baca juga: Pidato Kevin Warsh Jackson Hole Jadi Sorotan Pasar
