Pasar Asia Bergerak Hati-Hati
Pasar Asia bergerak hati-hati pada perdagangan Rabu setelah penurunan harga minyak mendorong imbal hasil obligasi AS lebih rendah. Investor melihat peluang pembukaan kembali Selat Hormuz setelah Iran melanjutkan pembicaraan dengan Oman.
Situasi tersebut memberi sedikit ruang bagi pasar untuk bernapas. Namun, sentimen tetap rapuh karena konflik hampir enam bulan masih menekan pasar energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Harga minyak Brent turun lebih dari 2% menjadi sekitar US$86,41 per barel. Penurunan itu menjadi yang ketiga secara beruntun. Investor berharap pembukaan kembali Selat Hormuz dapat meningkatkan pasokan minyak global.
Selat Hormuz memegang peran penting dalam perdagangan energi dunia. Jalur tersebut menangani sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan secara global sebelum konflik meningkat.
Yield Obligasi AS Ikut Menurun
Optimisme terhadap potensi tambahan pasokan minyak ikut menekan yield obligasi. Yield Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,634% setelah turun 6,5 basis poin pada perdagangan sebelumnya.
J.P. Morgan menilai pasar mulai memasukkan optimisme terhadap kemungkinan pengumuman sementara terkait Selat Hormuz. Namun, belum ada kemajuan nyata atau detail kesepakatan antara Iran dan Oman.
Iran juga menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap tertutup sampai sejumlah persyaratan terpenuhi. Karena itu, pasar masih menghadapi risiko perubahan sentimen secara cepat jika negosiasi kembali menemui jalan buntu.
Investor Menunggu Laporan Nvidia
Perhatian investor kemudian beralih ke laporan keuangan Nvidia. Perusahaan semikonduktor tersebut menjadi salah satu penentu utama arah perdagangan saham teknologi karena besarnya investasi global pada kecerdasan buatan atau AI.
Investor tidak hanya mencari pertumbuhan pendapatan. Mereka ingin melihat apakah belanja AI masih mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang cukup kuat untuk mempertahankan valuasi saham teknologi.
MSCI Asia-Pacific di luar Jepang naik tipis 0,12% pada awal perdagangan. Indeks tersebut masih berada di jalur kenaikan sekitar 2% sepanjang Agustus. Nikkei Jepang turun 0,4%, sedangkan KOSPI Korea Selatan melemah 0,2%.
Kontrak berjangka Nasdaq juga turun sekitar 0,5%, sementara kontrak berjangka saham Eropa bergerak relatif datar.
Pasar kini membutuhkan kejutan positif yang lebih besar dari Nvidia. Sekadar melampaui ekspektasi mungkin tidak lagi cukup untuk mendorong reli baru.
Ekspektasi pasar menunjukkan Nvidia berpotensi mencatat kenaikan penjualan kuartal ketiga sekitar 82,8% menjadi US$104,20 miliar. Margin kotor yang disesuaikan juga diperkirakan bertahan di sekitar 75%.
J.P. Morgan memperkirakan laporan Nvidia masih dapat mendukung tren investasi AI. Namun, laporan tersebut mungkin belum memberikan dorongan besar dalam jangka pendek bagi sektor semikonduktor.
Data Inflasi AS Jadi Perhatian Berikutnya
Selain Nvidia, investor juga menunggu data inflasi terbaru Amerika Serikat. Data tersebut menjadi semakin penting menjelang simposium Jackson Hole pada akhir pekan.
Indeks dolar AS berada di sekitar 98,934. Meski relatif stabil pada perdagangan Rabu, indeks tersebut masih berada di jalur penurunan sekitar 1% sepanjang Agustus.
Investor juga mencermati kebijakan Departemen Keuangan AS yang kembali meningkatkan program pembelian kembali atau buyback obligasi. Kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan pada yield obligasi tenor panjang.
Commonwealth Bank of Australia menilai kebijakan tersebut dapat menekan biaya bunga secara marginal. Namun, langkah itu tidak mengubah persoalan utama berupa meningkatnya utang pemerintah AS dan kekhawatiran terhadap dominasi fiskal serta independensi Federal Reserve.
Emas dan Bitcoin Tetap Menarik
Tekanan terhadap dolar AS membuat sebagian investor kembali melirik aset alternatif. Tren ini sering disebut sebagai debasement trade, ketika investor membeli aset seperti emas dan Bitcoin untuk mengantisipasi penurunan nilai mata uang akibat tingginya belanja dan utang pemerintah.
Harga emas spot berada di sekitar US$4.646,08 per troy ounce. Level tersebut hanya sedikit di bawah posisi tertinggi tiga bulan yang tercapai pada sesi sebelumnya.
Bitcoin juga bergerak positif dengan kenaikan sekitar 0,6% ke level US$78.704.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor masih mencari perlindungan dari risiko fiskal dan ketidakpastian nilai dolar. Namun, arah berikutnya tetap bergantung pada data inflasi AS, kebijakan Federal Reserve, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Pasar Asia Menanti Tiga Katalis
Pasar Asia kini menghadapi tiga katalis utama. Pertama, perkembangan pembicaraan Iran dan Oman terkait Selat Hormuz. Kedua, laporan Nvidia dan prospek investasi AI. Ketiga, data inflasi AS yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve.
Penurunan harga minyak memberi sedikit bantuan bagi pasar karena dapat mengurangi tekanan inflasi. Namun, investor belum bisa terlalu cepat berasumsi bahwa risiko tersebut sudah hilang.
Jika harga minyak terus turun dan data inflasi AS menunjukkan pelemahan, tekanan terhadap yield obligasi dan dolar berpotensi berlanjut. Kondisi itu dapat menjadi katalis positif bagi emas, Bitcoin, dan saham teknologi.
Sebaliknya, kegagalan negosiasi terkait Selat Hormuz atau data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat kembali memicu volatilitas. Untuk saat ini, pasar memilih menunggu sebelum mengambil posisi agresif.
Baca juga: Dolar AS Menguat Jelang Data PCE dan Jackson Hole
Sumber: Yahoo Finance
