Dolar AS Stabil Jelang Data Ekonomi AS
Dolar AS stabil pada perdagangan Rabu setelah bergerak dalam rentang terbatas pada awal pekan. Investor memilih wait and see menjelang sejumlah agenda penting dari Amerika Serikat.
Biro Analisis Ekonomi AS atau BEA akan merilis estimasi kedua pertumbuhan GDP kuartal kedua. Data inflasi PCE untuk Juli juga menjadi perhatian utama pasar.
PCE menjadi indikator penting karena Federal Reserve menjadikannya sebagai salah satu acuan utama dalam menilai tekanan inflasi. Pasar memperkirakan inflasi inti PCE naik 0,2% secara bulanan pada Juli, setelah meningkat 0,1% pada Juni. Secara tahunan, angkanya diperkirakan bertahan di 3,3%.
Data PCE Jadi Penentu Arah Dolar
Indeks Dolar AS atau DXY bergerak di sekitar 99,00 setelah melemah tipis pada Selasa. Pasar melihat ruang kenaikan DXY masih terbatas jika data inflasi AS tidak menunjukkan kejutan besar.
ING menilai data core PCE sebesar 0,2% secara bulanan dapat menjaga pergerakan dolar tetap stabil. Kondisi pasar yang lebih tenang juga membuka peluang pelemahan ringan.
ING melihat area 99,00-99,10 sebagai batas penting di sisi atas DXY. Jika gagal menembus area tersebut, indeks dolar berpeluang kembali menguji 98,60.
Dengan demikian, Dolar AS stabil masih menjadi skenario utama menjelang rilis data. Namun, perubahan kecil pada angka PCE dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve.
Nvidia Tambah Risiko Volatilitas Pasar
Selain data ekonomi, investor juga menunggu laporan keuangan Nvidia setelah penutupan perdagangan Wall Street.
Kinerja Nvidia menjadi perhatian karena saham perusahaan teknologi besar masih memiliki pengaruh kuat terhadap sentimen pasar saham AS. Hasil yang jauh di atas atau di bawah ekspektasi dapat memicu pergerakan pada saham teknologi dan aset berisiko.
Kombinasi data GDP, PCE, dan laporan Nvidia membuat sesi perdagangan Rabu berpotensi lebih volatil. Investor kemungkinan menahan posisi besar sebelum seluruh agenda tersebut keluar.
Ketegangan Dagang AS-Kanada Meningkat
Dari Amerika Utara, Kanada mengumumkan tarif hingga 50% terhadap sejumlah barang dari AS dengan nilai hampir US$20 miliar.
Langkah tersebut menjadi respons atas tarif baru yang dikenakan Presiden Donald Trump terhadap produk Kanada. Ottawa ingin memperkuat posisi negosiasinya melalui kebijakan tersebut.
Danske Bank menilai langkah Kanada masih proporsional. Namun, kebijakan ini meningkatkan ketidakpastian bagi perusahaan di kedua negara. Gangguan pada rantai pasokan juga berpotensi menambah tekanan harga.
Situasi tersebut membuat hubungan dagang AS-Kanada kembali menjadi perhatian pasar. Jika pemerintahan Trump merespons dengan tarif tambahan, tekanan terhadap perdagangan lintas batas dapat meningkat.
USD/CAD Menguat di Tengah Konflik Dagang
USD/CAD bergerak naik di atas 1,3850 pada awal perdagangan Rabu. Pasangan ini mendapatkan dorongan dari meningkatnya ketegangan perdagangan antara Washington dan Ottawa.
Pasar kini perlu mencermati respons pemerintahan Donald Trump. Kebijakan lanjutan dari Washington dapat memengaruhi prospek ekonomi Kanada sekaligus arah dolar Kanada.
Inflasi Australia Beri Dorongan AUD/USD
Australia mencatat perkembangan berbeda. Inflasi tahunan berdasarkan Consumer Price Index turun menjadi 3,5% pada Juli dari 3,8% pada Juni.
Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 3,2%. Kondisi ini memberikan dorongan terhadap dolar Australia karena pasar dapat melihat tekanan inflasi masih cukup kuat.
AUD/USD pun menguat ke atas 0,7180 dan mencapai level tertinggi sejak awal Juni.
Pergerakan Mata Uang Utama
EUR/USD masih bergerak sideways di sekitar 1,1700 setelah gagal menentukan arah yang jelas pada perdagangan sebelumnya.
GBP/USD juga kesulitan mempertahankan kenaikan tipis dan kembali bergerak di bawah 1,3650 pada sesi Eropa.
Sementara itu, USD/JPY terkoreksi lebih rendah dan bergerak di sekitar 159,00 setelah perdagangan Selasa berlangsung cukup fluktuatif.
Pergerakan ketiga pasangan tersebut masih sangat bergantung pada arah dolar setelah data ekonomi AS keluar.
Minyak Turun Setelah Perkembangan Selat Hormuz
Iran dan Oman mengumumkan proposal bersama untuk membentuk jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz. Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa jalur strategis tersebut tetap tertutup.
Gharibabadi juga mengatakan Amerika Serikat perlu kembali memenuhi komitmennya berdasarkan Memorandum of Understanding sebelum pembukaan penuh dapat terjadi.
Harga minyak WTI melanjutkan penurunan setelah anjlok lebih dari 4% pada Selasa. WTI terakhir bergerak di sekitar US$79,50 per barel atau turun sekitar 1,5% pada hari tersebut.
Emas Menguji Support Penting
Harga emas sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan di sekitar US$4.700 sebelum kehilangan momentum dan ditutup relatif datar pada Selasa.
Pada sesi Eropa, emas kembali melemah dan bergerak di bawah US$4.630.
UOB Group melihat area US$4.425 sebagai support penting. Level tersebut bertepatan dengan garis tren naik harian dan EMA 21 hari.
Jika emas menembus US$4.425, momentum bullish dapat kehilangan tenaga. Kondisi tersebut berpotensi membuka ruang bagi fase konsolidasi atau retracement lebih dalam.
Di sisi atas, area US$4.769-US$4.773 menjadi resistance penting. Zona tersebut berdekatan dengan level retracement 50% dari penurunan antara rekor US$5.595 dan titik terendah Juni di US$3.943.
Jika emas mampu menembus US$4.773, perhatian pasar berikutnya akan tertuju pada US$4.889.
Pasar Menunggu Pemicu Berikutnya
Perdagangan Rabu berpotensi menjadi lebih aktif setelah data GDP dan PCE AS keluar. Pasar juga perlu mencermati laporan Nvidia serta perkembangan hubungan dagang Washington dan Ottawa.
Untuk mata uang, DXY masih menghadapi resistance di area 99,00-99,10. Sementara itu, AUD/USD mendapat dukungan dari data inflasi Australia yang lebih tinggi dari perkiraan.
Di pasar komoditas, minyak masih menghadapi tekanan setelah penurunan tajam sebelumnya. Emas juga mulai menguji support penting setelah gagal mempertahankan area US$4.700.
Dengan banyaknya katalis yang hadir bersamaan, investor sebaiknya bersiap menghadapi potensi volatilitas yang lebih tinggi setelah data AS dirilis.
Baca juga: Pasar Asia Tertekan, Investor Tunggu Nvidia
Sumber: FXStreet
