USD/IDR menguat ke sekitar 17.770 pada perdagangan Asia, Selasa (25/8), sekaligus menghentikan penurunan selama tiga hari beruntun. Rupiah kembali mendapat tekanan karena sentimen pasar global masih berhati-hati. Tekanan eksternal juga meningkat seiring memburuknya kondisi neraca eksternal Indonesia.
Defisit Transaksi Berjalan Jadi Perhatian
Defisit transaksi berjalan Indonesia melebar menjadi USD 12,5 miliar pada kuartal II 2026. Angka tersebut menjadi salah satu perhatian utama pasar karena menunjukkan tekanan yang semakin besar pada sektor eksternal.
Harga minyak yang tinggi, permintaan impor yang tetap kuat, serta kinerja ekspor yang lebih lemah dapat menjaga tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati terhadap prospek rupiah.
Pasar juga menunggu rilis data perdagangan Juli dan inflasi Agustus. Risiko El Niño turut menjadi perhatian karena dapat mendorong kenaikan harga pangan dan menambah tekanan terhadap inflasi domestik.
Kebijakan Bank Indonesia Jadi Penopang Rupiah
Meski menghadapi sejumlah tekanan, ruang pelemahan rupiah masih dapat terbatas karena pasar melihat kebijakan Bank Indonesia tetap mendukung stabilitas mata uang.
Di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, BI diperkirakan tetap menempatkan stabilitas rupiah sebagai salah satu fokus utama kebijakan. Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga pada Agustus untuk bulan kedua secara berturut-turut.
Keputusan tersebut mengikuti kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei. Sikap BI yang tetap ketat dapat membantu menjaga daya tarik aset rupiah sekaligus mengurangi tekanan terhadap nilai tukar.
Dolar AS Dapat Dukungan Safe Haven
USD/IDR juga mendapat dorongan dari penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven kembali meningkat setelah Amerika Serikat memperluas sanksi sekunder terhadap sejumlah entitas yang melakukan transaksi dengan Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan sebuah lembaga keuangan besar dapat menghadapi tindakan penegakan hukum pada pekan ini. Bessent juga menegaskan bahwa entitas asal China tidak mendapat pengecualian dari kebijakan tersebut.
Perkembangan itu meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap potensi dampak lanjutan terhadap perdagangan dan sistem keuangan global. Jika ketegangan terus meningkat, permintaan terhadap dolar berpotensi tetap kuat.
Buyback Obligasi AS Batasi Penguatan Dolar
Namun, penguatan dolar AS menghadapi potensi hambatan dari kebijakan Departemen Keuangan AS terkait pembelian kembali obligasi pemerintah.
Departemen Keuangan AS berencana menggandakan operasi buyback untuk obligasi dengan tenor panjang. Langkah tersebut berpotensi memengaruhi likuiditas pasar serta pergerakan imbal hasil obligasi Treasury AS.
Laporan juga menyebut Scott Bessent dapat menggunakan hingga USD 1 triliun dari Treasury General Account untuk mendukung pembelian kembali obligasi. Jika langkah tersebut mengubah kondisi likuiditas secara signifikan, penguatan dolar dapat kehilangan sebagian momentumnya.
Rupiah Masih Hadapi Tekanan Eksternal
Secara keseluruhan, USD/IDR masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek. Pelemahan rupiah mendapat tekanan dari defisit transaksi berjalan, risiko kenaikan harga pangan, serta meningkatnya ketegangan geopolitik.
Di sisi lain, kebijakan Bank Indonesia yang berfokus pada stabilitas rupiah dapat membatasi tekanan tersebut. Pasar kini akan mencermati data perdagangan Juli dan inflasi Agustus untuk melihat arah tekanan eksternal dan domestik terhadap rupiah.
Pergerakan dolar AS juga tetap menjadi faktor penting. Ketegangan geopolitik dapat menjaga permintaan safe haven, sementara kebijakan buyback obligasi AS berpotensi membatasi penguatan dolar lebih lanjut.
Analisa Teknikal USD/IDR (Daily)

Struktur Pasar (Smart Money Concepts)
Sejak awal 2026, USD/IDR berada dalam tren naik yang solid — terlihat dari rangkaian BOS (Break of Structure) berturut-turut dari level 16.700 hingga puncak di sekitar 18.240 pada awal Juni. Namun struktur mulai melemah sejak saat itu:
- Weak High terbentuk di area 18.240 — menandakan bahwa reli terakhir tidak diikuti momentum beli yang kuat, sinyal awal potensi pembalikan.
- CHoCH (Change of Character) muncul di sekitar 17.950–18.000 (akhir Agustus) — konfirmasi bahwa struktur bullish mulai patah.
- BOS ke bawah baru saja tercipta saat harga menembus level 17.705, mengonfirmasi pergeseran struktur jangka pendek dari bullish ke bearish.
- Strong Low berada tepat di 17.705 (garis merah tebal) — level ini sebelumnya adalah support kuat/order block, dan sekarang sudah ditembus ke bawah, berpotensi berubah fungsi menjadi resistance (order block re-test).
Level Fibonacci Retracement (dari Low ke High tren naik)
| Level | Harga | Keterangan |
| 0.236 | 17.834 | Resistance terdekat jika ada pantulan |
| 0.382 | 17.619 | Support kunci berikutnya — searah dengan zona hijau |
| 0.5 | 17.445 | Support psikologis mid-range |
| 0.618 | 17.271 | Golden ratio — target koreksi wajar dalam tren naik |
| 0.786 | 17.023 | Support dalam, dekat level SMA sebelumnya |
Indikator Pendukung
- SMA (garis biru) berada di ±17.923 dan sudah mulai melandai/menurun setelah sempat menjadi support dinamis sepanjang tren naik — kini berperan sebagai resistance overhead, memperkuat bias bearish jangka pendek.
Skenario & Bias
Struktur SMC saat ini condong bearish jangka pendek setelah BOS ke bawah menembus Strong Low 17.705:
- Resistance terdekat: 17.705–17.835 (area supply/order block, sekaligus 0.236 fib)
- Support pertama: 17.619 (fib 0.382)
- Support lanjutan bila tekanan jual berlanjut: 17.445 → 17.271 (fib 0.5–0.618)
- Invalidasi bias bearish: penutupan harian kembali di atas 17.834 (0.236) dan SMA, yang akan membatalkan BOS dan mengindikasikan kelanjutan tren naik.
Kesimpulan: USD/IDR sedang mengalami koreksi teknikal setelah tren naik panjang sejak awal tahun. Selama harga tertahan di bawah 17.834–17.923 (resistance + SMA), peluang pelemahan lanjutan ke arah 17.619–17.445 lebih besar. Trader jangka pendek bisa memanfaatkan pantulan ke area resistance sebagai peluang sell on rally, dengan tetap waspada terhadap potensi reversal jika Strong Low 17.705 direbut kembali secara meyakinkan.
Disclaimer: Analisa ini bersifat edukasi, bukan rekomendasi investasi. Selalu gunakan manajemen risiko yang sesuai.
Baca analisa lainnya: Update Analisa Emas H4: Pullback Sesuai Skenario
Sumber grafik: TradingView
