Dampak Buyback Obligasi Jangka Panjang ke Dolar AS

Buyback Obligasi - Kepoin Trading

Buyback obligasi jangka panjang yang diperbesar oleh Departemen Keuangan AS menjadi sorotan utama pasar valuta asing pada awal pekan ini. Indeks Dolar AS (DXY) tergelincir ke kisaran 98,80 pada sesi perdagangan Asia hari Senin, level terendah dalam tiga bulan terakhir. Indeks ini mengukur nilai Dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia.

Departemen Keuangan AS Gandakan Buyback Obligasi Jangka Panjang

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan pada hari Kamis bahwa pemerintah akan menggandakan nilai buyback obligasi jangka panjang menjadi 4 miliar dolar AS per operasi. Langkah ini bertujuan menahan lonjakan yield obligasi tenor 30 tahun. Pengumuman ini muncul sehari setelah Departemen Keuangan mengejutkan pasar dengan janji serupa untuk menggandakan skala pembelian kembali utang bertenor panjang.

Seorang pakar strategi pasar menilai bahwa upaya menekan yield AS justru berdampak besar pada nilai tukar dolar. “Upaya Bessent menekan yield AS belum banyak membuahkan hasil, tetapi telah melemahkan dolar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pasar kini mulai melakukan koreksi terhadap kebijakan tersebut.

Data Inflasi AS Mereda, Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed Menurun

Data inflasi AS terbaru menunjukkan tanda-tanda pelandaian. Meski begitu, sejumlah pejabat Federal Reserve masih menunggu bukti lebih kuat sebelum meyakini tekanan harga benar-benar mereda. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Fed pada pertemuan kebijakan mendatang hanya sebesar 41,0%, turun dari 47% sebulan sebelumnya.

Ancaman Sanksi Iran Berpotensi Angkat Dolar AS sebagai Safe Haven

Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada hari Senin setelah sebelumnya mengancam akan menjatuhkan “sanksi paling berat dalam sejarah” terhadap Iran. Pelaku pasar menanti apakah sanksi tersebut akan menyasar China.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pekan lalu tindakan ekonomi paling keras yang pernah diambil terhadap Iran. Ia menyatakan langkah ini akan menciptakan konflik ekonomi dan isolasi dalam skala belum pernah terjadi sebelumnya. Trump juga menegaskan bahwa negara-negara yang tetap memberikan bantuan finansial kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang berat. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah berpotensi mengangkat dolar sebagai mata uang safe haven dalam jangka pendek.

Kebijakan Buyback Jadi Beban Fiskal bagi Dolar AS, Kata Scotiabank

Para ahli strategi di Scotiabank menilai bauran kebijakan saat ini membuat mata uang AS makin rentan terhadap kekhawatiran fiskal. Otoritas berupaya menahan biaya pinjaman jangka panjang tetap rendah lewat buyback obligasi jangka panjang. Mereka mencatat bahwa upaya menekan yield jangka panjang membuat dolar AS menanggung beban negatif yang lebih besar dari persoalan fiskal AS. Pandangan ini memperkuat proyeksi bahwa dolar AS akan tetap tertekan selama ketidakpastian fiskal berlanjut.

Pernyataan Musalem Soal Risiko Inflasi Jaga Sentimen Hawkish Fed

Pejabat Federal Reserve Musalem menyampaikan pidato yang mendapat skor 7 dari 10 pada FXS Speechtracker, sejalan dengan rata-rata historis namun sedikit lebih hawkish di baliknya. Musalem menyebut kebijakan moneter saat ini bersifat “netral hingga akomodatif”. Ia memperingatkan bahwa inflasi inti masih tertahan di kisaran 2,5%-3%. Musalem juga menyampaikan bahwa suku bunga saat ini memiliki peluang lebih kecil untuk mencapai target 2%, dan kenaikan suku bunga sekarang bisa mencegah tindakan lebih agresif di masa depan.

Musalem menekankan pentingnya menjaga kredibilitas The Fed serta independensi kebijakan moneter dari kebijakan fiskal. Ia juga menyoroti fokus pada inflasi inti di tengah potensi guncangan pasokan seperti fenomena Super El Nino. Pernyataan ini memperkuat narasi stabilitas harga yang sedikit mendukung penguatan dolar AS dan yield AS.

FXS Fed Sentiment Index tercatat turun 0,34 poin menjadi 132,42, menandakan sedikit penurunan nada hawkish. Meski begitu, indeks ini masih berada jauh di atas garis netral 100. Kondisi ini menunjukkan bahwa nada kebijakan sedikit melunak dibanding komunikasi terakhir, namun arah kebijakan besar The Fed tetap condong hawkish selama inflasi belum kembali meyakinkan ke target 2%.

Baca juga: Harga Emas Melesat ke Level Tertinggi Sejak Mei

Sumber: FXStreet