Outlook Pasar 24-28 Agustus: Emas, Minyak, Wall Street

Week Ahead - Kepoin Trading

Weekly Recap 21 Agustus & Week Ahead 24-28 Agustus 2026: The Fed, Iran, dan Nvidia Jadi Penentu Arah Pasar

Outlook Pasar 24-28 Agustus 2026 menjadi sorotan utama pelaku pasar global setelah sepekan penuh gejolak di pasar obligasi, komoditas, dan saham. Dolar AS melemah ke level terendah dalam tiga bulan, emas melesat mendekati $4.600 per ons, harga minyak melonjak akibat eskalasi sanksi terhadap Iran, sementara bursa saham AS dan Asia bergerak variatif menjelang simposium tahunan Jackson Hole. Berikut rekap lengkap pergerakan pasar sepekan terakhir sekaligus proyeksi untuk pekan 24-28 Agustus 2026.

Weekly Recap: Dolar AS Melemah, Yield Obligasi Jadi Sorotan

Dolar Amerika Serikat mengalami tekanan berat sepanjang pekan ini. Indeks Dolar (DXY) berakhir di kisaran 98,8, mendekati level terendah sejak Mei, setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan program pembelian kembali (buyback) obligasi bertenor panjang. Kebijakan ini bertujuan meredam lonjakan yield jangka panjang yang sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir dua dekade di tenor 30 tahun. Euro menguat ke sekitar $1,16-$1,168, level tertinggi dalam tiga bulan, sementara dolar Australia juga mencatat penguatan multi-bulan seiring ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed yang semakin dovish.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pihaknya siap memperluas skema buyback tersebut demi menjaga likuiditas pasar obligasi tetap stabil. Namun, langkah ini juga memicu kekhawatiran baru soal keberlanjutan fiskal AS, terutama setelah total utang pemerintah menembus $40 triliun untuk pertama kalinya.

Emas dan Perak Melesat, Minyak Naik Tajam

Harga emas menjadi salah satu aset dengan performa terbaik sepekan ini. Emas spot melonjak ke atas $4.600 per ons, mencatat kenaikan mingguan ketiga berturut-turut dan mencetak level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Penguatan ini didorong kombinasi dolar yang melemah, ekspektasi suku bunga The Fed yang cenderung menahan kenaikan, serta pembelian emas berkelanjutan oleh bank sentral, termasuk Bank Sentral China (PBoC) yang memperpanjang rentetan pembelian selama puluhan bulan berturut-turut. Perak ikut terangkat, sempat menembus $70 per ons sebelum berakhir di sekitar $69, level tertingginya dalam beberapa bulan terakhir.

Di sisi energi, harga minyak mencatat kenaikan mingguan kedua secara beruntun. Brent crude naik lebih dari 5% ke kisaran $93-94 per barel, sementara WTI menguat sekitar 5% ke kisaran $86-87 per barel. Pemicu utamanya adalah eskalasi tekanan ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran. Presiden Donald Trump mengancam akan melancarkan “operasi ekonomi paling menghancurkan” terhadap Iran, sementara Menkeu Bessent menegaskan Washington akan menjatuhkan “sanksi paling keras dalam sejarah”. Meski demikian, harga sempat tertahan setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengisyaratkan keinginan untuk mengakhiri konflik, membuka celah bagi potensi de-eskalasi.

Wall Street: Indeks AS Catat Pelemahan Mingguan Meski Rebound di Jumat

Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Jumat, namun tiga indeks utama tetap mencatat pelemahan mingguan akibat volatilitas pasar obligasi yang berlangsung sepanjang pekan. S&P 500 sempat jatuh di bawah 7.700 sebelum akhirnya pulih tipis dan ditutup di kisaran 7.712, membukukan penurunan mingguan sekitar 1,4-1,5%. Dow Jones Industrial Average relatif bertahan dan hanya melemah tipis secara mingguan meski sempat anjlok lebih dari 270 poin pada awal pekan akibat lonjakan harga minyak. Nasdaq Composite menjadi indeks dengan performa terlemah, tertekan sekitar 2% dalam sepekan seiring saham-saham teknologi berjatuhan lebih dari 3% akibat kekhawatiran soal valuasi dan penantian laporan keuangan Nvidia pekan depan.

Sektor energi menjadi salah satu penopang utama di tengah pelemahan indeks berkat lonjakan harga minyak, sementara saham ritel tertekan setelah salah satu peritel besar AS mencatat penurunan tajam akibat hasil kinerja yang mengecewakan.

Indeks Asia Bergerak Variatif

Bursa Asia mencatat pergerakan yang tidak seragam sepekan ini. Nikkei 225 Jepang menjadi yang paling tertekan di kawasan, anjlok sekitar 3,9-4,4% secara mingguan dan ditutup di kisaran 66.016. Pelemahan ini dipicu data inflasi inti Jepang yang kembali mengakselerasi untuk bulan kedua berturut-turut, memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Gubernur BOJ Kazuo Ueda sebelumnya menyampaikan bahwa otoritas dapat mempercepat normalisasi kebijakan moneter.

Hang Seng Hong Kong justru mencatat penguatan sekitar 3% dalam sepekan, mematahkan tren pelemahan dua minggu beruntun. Penguatan ini ditopang kinerja sektor teknologi dan kesehatan China, serta keputusan People’s Bank of China (PBoC) mempertahankan suku bunga pinjaman acuan tetap stabil. Kospi Korea Selatan sempat bergejolak tajam di awal pekan—indeks Kosdaq bahkan sempat memicu circuit breaker—namun berhasil pulih dan ditutup menguat berkat sentimen positif dari rencana buyback saham senilai 40 triliun won oleh salah satu produsen chip memori terbesar Korea Selatan, serta kabar program pengembalian nilai pemegang saham senilai hingga 110 triliun won dari produsen elektronik konsumer terbesar negara itu.

Outlook Pasar 24-28 Agustus 2026: Apa yang Perlu Diperhatikan

Outlook Pasar 24-28 Agustus 2026 akan sangat ditentukan oleh tiga variabel besar: data inflasi PCE Amerika Serikat, laporan keuangan Nvidia, dan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole. Ketiganya berpotensi menentukan arah suku bunga AS menjelang pertemuan FOMC 16 September mendatang, sekaligus menjadi katalis utama bagi pergerakan dolar, emas, dan saham teknologi global.

Kalender Ekonomi Pekan 24-28 Agustus 2026

Hari/TanggalNegaraData/PeristiwaDampak
Senin, 24 AgustusASChicago Fed National Activity Index (Jul)Medium
Senin, 24 AgustusASUpdate kebijakan sanksi ekonomi Iran oleh Menkeu BessentHigh
Selasa, 25 AgustusASConsumer Confidence (Agustus)High
Selasa, 25 AgustusASNew Home Sales (Juli) & Case-Shiller Home Price IndexMedium
Selasa, 25 AgustusJermanGDP Final Q2 & Ifo Business ClimateMedium
Selasa, 25 AgustusAustraliaRisalah Rapat RBA (Agustus)Medium
Rabu, 26 AgustusASCore PCE Price Index (Juli) — indikator inflasi favorit The FedHigh
Rabu, 26 AgustusASGDP Estimasi Kedua Q2 & Durable Goods Orders (Juli)High
Rabu, 26 AgustusASPersonal Income & Personal Spending (Juli)Medium
Rabu, 26 AgustusAustraliaConsumer Price Index (Juli)High
Kamis, 27 AgustusASInitial Jobless ClaimsMedium
Kamis, 27 AgustusGlobalSimposium Jackson Hole dimulai (27-29 Agustus)High
Kamis, 27 AgustusKorea SelatanKeputusan Suku Bunga Bank of Korea (BoK)Medium
Kamis, 27 AgustusUni EropaRisalah Rapat Kebijakan Moneter ECBMedium
Jumat, 28 AgustusASPidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson HoleHigh
Jumat, 28 AgustusJepangTokyo CPI (Agustus) & Tingkat Pengangguran (Juli)Medium
Jumat, 28 AgustusASRevisi Awal Tahunan Data Payroll (Benchmark Revision)High
Jumat, 28 AgustusASChicago PMIMedium
Jumat, 28 AgustusASUniversity of Michigan Consumer Sentiment (Final)Medium
Jumat, 28 AgustusKanadaGDP (Juni)Medium

Kalender Earnings Pekan 24-28 Agustus 2026

Hari/TanggalPerusahaan
Selasa, 25 AgustusIntuit, Zoom Video Communications, Bank of Montreal, Dick’s Sporting Goods
Rabu, 26 AgustusNvidia, Salesforce, CrowdStrike Holdings, HP Inc, Synopsys, Veeva Systems, Agilent Technologies, Williams-Sonoma
Kamis, 27 AgustusBest Buy, Marvell Technology, Workday, Autodesk, Dollar General, Dollar Tree, Ulta Beauty, Hormel Foods

Proyeksi Per Kelas Aset dan Driver Utamanya

Dolar AS (USD)

Arah USD sepekan ke depan bergantung pada dua hal: hasil data Core PCE Juli (Rabu) dan nada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole (Jumat). Sejak menjabat, Warsh enggan memberikan panduan kebijakan (forward guidance) secara eksplisit, sehingga pasar berpotensi bereaksi tajam terhadap setiap frasa dalam pidatonya. Jika data PCE menunjukkan inflasi inti tetap terjaga di kisaran 3,3% year-on-year sesuai konsensus, tekanan pada dolar kemungkinan berlanjut karena memperkuat argumen bahwa The Fed tidak perlu menaikkan suku bunga lagi tahun ini. Sebaliknya, kejutan inflasi ke atas dapat memicu rebound teknikal DXY dari level terendah tiga bulan.

Emas dan Perak

Kombinasi pelemahan dolar AS, ketidakpastian fiskan dan permintaan safe haven akibat konflik Timur tengah yang berkepanjangan akan tetap mendukung reli emas dan perak. Namun, setelah tiga pekan berturut-turut menguat, risiko koreksi teknikal tetap terbuka apabila Warsh menyampaikan nada hawkish atau data PCE mengejutkan ke atas. Beberapa institusi keuangan besar, termasuk Jefferies, telah menyoroti faktor fiskal—bukan semata kebijakan suku bunga The Fed—sebagai alasan struktural di balik penguatan emas tahun ini, mengingat beban bunga utang AS kini telah melampaui belanja pertahanan negara tersebut.

Minyak (Brent & WTI)

Harga minyak akan mencermati sanksi ekonomi terhadap Iran menyusul pernyataan Menkeu AS Bessent pada Senin. Skala dan cakupan sanksi—termasuk apakah menyasar mitra dagang Iran seperti China—akan menentukan apakah premi risiko geopolitik terus membesar atau justru mereda. Di sisi lain, pernyataan Presiden Iran yang membuka opsi mengakhiri konflik memberi peluang de-eskalasi yang dapat menekan harga jika terealisasi. Selama Selat Hormuz masih beroperasi di bawah kapasitas normal, risiko kenaikan harga minyak tetap dominan.

Indeks Saham AS

Laporan keuangan Nvidia pada Rabu menjadi katalis tunggal terbesar bagi arah Nasdaq dan sentimen tema kecerdasan buatan (AI) secara luas. Pasar akan mencermati margin laba, permintaan pusat data, serta panduan ke depan terkait platform AI generasi berikutnya. Di saat bersamaan, data PCE dan GDP Q2 akan membentuk ekspektasi kebijakan The Fed, sementara yield obligasi 30 tahun AS yang masih mendekati level tertinggi dua dekade tetap menjadi variabel risiko bagi valuasi saham, khususnya sektor teknologi dengan durasi tinggi.

Satu data yang berpotensi luput dari radar banyak trader ritel namun berdampak besar adalah revisi awal tahunan (preliminary benchmark revision) data payroll AS yang jatuh pada Jumat ini. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengoreksi ulang jumlah lapangan kerja sepanjang setahun terakhir menggunakan data pajak dan sensus yang lebih lengkap, dan secara historis revisi semacam ini bisa menggeser angka awal hingga ratusan ribu pekerjaan. Mengingat laporan payroll Juli yang mengecewakan sempat memicu spekulasi soal pelemahan pasar tenaga kerja, revisi kali ini berpotensi mengonfirmasi—atau justru membantah—narasi tersebut. Jika revisi menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja jauh lebih lemah dari angka awal, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada September berpotensi menguat, yang pada gilirannya dapat kembali menekan dolar AS, mendorong emas, serta memberi angin segar bagi saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga. Sebaliknya, revisi ke atas dapat meredam spekulasi pelonggaran agresif dan memicu volatilitas balik arah di pasar saham maupun obligasi.

Indeks Asia

Nikkei berpotensi tetap volatil karena investor mencermati pidato Deputi Gubernur BOJ Ryozo Himino serta data inflasi Tokyo Jumat, yang akan memengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ pada pertemuan September mendatang. Yield obligasi Jepang yang ikut naik turut menekan sektor properti dan teknologi domestik. Hang Seng dan indeks China berpotensi melanjutkan penguatan selama stimulus kebijakan PBoC tetap suportif dan sentimen teknologi China tetap positif, meski volatilitas harga minyak akibat konflik Iran dapat membebani prospek inflasi kawasan. Kospi kemungkinan bergerak searah dengan sentimen laporan keuangan Nvidia mengingat keterkaitan erat sektor chip Korea Selatan dengan rantai pasok AI global. Selain itu, keputusan suku bunga Bank of Korea pada Kamis yang turut memengaruhi arah won dan saham berkapitalisasi besar.

Kesimpulan

Outlook Pasar 24-28 Agustus 2026 menegaskan bahwa pekan depan akan menjadi salah satu pekan paling padat sepanjang Agustus, dengan tiga variabel utama—inflasi PCE, laporan Nvidia, dan pidato Jackson Hole—berpotensi menggerakkan hampir seluruh kelas aset secara bersamaan. Pelaku pasar akan mencermati volatilitas ekstra menjelang dan sesudah rilis data pada Rabu dan Jumat, mengingat kombinasi ketidakpastian kebijakan The Fed, konflik geopolitik Timur Tengah, dan tema AI global saling bersinggungan dalam menentukan arah dolar, emas, minyak, serta bursa saham AS dan Asia sepekan ke depan.


Baca juga: Outlook Pasar Minggu Ini: Dolar Tertekan, Saham Rekor

Sumber:

Artikel ini untuk tujuan edukasi dan informasi pasar, bukan merupakan rekomendasi atau ajakan untuk melakukan transaksi tertentu. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan trading atau investasi.