Outlook Pasar Minggu Ini: Dolar Tertekan, Saham Rekor

Week Ahead - Kepoin Trading

Outlook pasar minggu ini menunjukkan pergeseran arah yang cukup jelas dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Selama periode 8-14 Agustus 2026, dolar AS melemah secara konsisten setelah serangkaian data inflasi dan tenaga kerja yang lebih lunak dari perkiraan mengikis ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September. Pelemahan dolar ini mendorong penguatan emas dan perak, sementara bursa saham Amerika Serikat justru mencetak rekor tertinggi baru meski ditutup bervariasi pada akhir pekan. Di kawasan Asia, performa bursa saham juga terpecah antara penguatan tajam di Jepang dan Korea Selatan versus pelemahan di Hong Kong.

Artikel ini merangkum pergerakan pasar sepekan terakhir sekaligus memetakan agenda penting yang akan memengaruhi arah pasar pada 18-21 Agustus 2026, mulai dari rilis notulen FOMC, Simposium Jackson Hole, hingga laporan keuangan sejumlah perusahaan ritel besar.

Weekly Recap: Pergerakan Pasar 8-14 Agustus 2026

Dolar AS Melemah terhadap Mata Uang Utama

Indeks Dolar AS (DXY) turun dari sekitar 101,70 pada akhir Juli menjadi kisaran 99,50-99,80 pada pekan ini, mencerminkan koreksi sekitar 2%. Tiga rilis data berturut-turut membebani mata uang tersebut: laporan tenaga kerja Juli yang meleset dari ekspektasi pada 7 Agustus, data inflasi konsumen (CPI) pada 12 Agustus, dan data inflasi produsen (PPI) pada 13 Agustus. Ketiganya menunjukkan tekanan harga yang mereda, sehingga pelaku pasar mulai mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga September.

Euro memanfaatkan momentum ini dengan merangkak naik dan sempat merebut kembali area 1,1700 terhadap dolar. Sementara itu, yen Jepang bergerak lebih variatif; otoritas moneter AS dan Jepang sempat melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk menopang yen, meski dolar kembali menguat tipis terhadap yen menjelang penutupan pekan. Sentimen konsumen AS turut memperberat tekanan pada dolar setelah survei awal University of Michigan untuk Agustus anjlok ke level 51, jauh dari perkiraan 55, sementara penjualan ritel Juli tercatat turun 0,6 persen.

Emas dan Perak Menguat Meski Terjadi Aksi Ambil Untung

Harga emas sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua bulan di atas 4.400 dolar per ons, dengan kenaikan bulanan lebih dari 10 persen. Faktor utama pendorong penguatan ini adalah menurunnya probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September, dari sekitar 55 persen menjadi hanya 35 persen setelah data inflasi yang lebih lunak. Permintaan bank sentral turut menopang harga, dengan China tercatat menambah sekitar 20 ton cadangan emasnya pada Juli, menandai bulan pembelian beruntun yang ke-21.

Menjelang akhir pekan, sebagian investor melakukan aksi ambil untung sehingga harga emas terkoreksi ke kisaran 4.330-4.380 dolar per ons. Perak justru mencatat kinerja lebih solid, naik sekitar 2,2 persen dalam sepekan dan lebih dari 10 persen dalam sebulan ke level sekitar 64-65 dolar per ons, level tertinggi sejak akhir Juni. Rasio emas terhadap perak berada di kisaran 68, menunjukkan perak secara historis masih tergolong murah dibandingkan emas.

Harga Minyak Naik di Tengah Ketegangan Timur Tengah yang Belum Reda

Minyak mentah WTI diperdagangkan pada kisaran 81-83 dolar per barel, sementara Brent bergerak di rentang 87-89 dolar per barel. Harga minyak sempat naik menjelang akhir pekan karena perundingan untuk membuka kembali Selat Hormuz masih menemui jalan buntu, sehingga risiko gangguan pasokan tetap membayangi pasar. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menurunkan proyeksi permintaan minyak global sekaligus memperkirakan pasokan global bisa turun sekitar 4,3 juta barel per hari akibat konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut.

Wall Street Cetak Rekor, Bursa Asia Bergerak Variatif

Indeks S&P 500 naik 0,4 persen dalam sepekan ke level 7.785,76, mencatat kenaikan mingguan ketiga secara beruntun setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Nasdaq Composite menguat tipis 0,1 persen ke 26.729,16, juga melanjutkan tren kenaikan tiga pekan berturut-turut berkat momentum belanja modal di sektor kecerdasan buatan. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average melemah 0,6 persen ke 53.732,41, mengakhiri tren kenaikan dua pekan akibat pelemahan saham sektor kesehatan dan industri. Indeks saham kapitalisasi kecil Russell 2000 justru melonjak 3,15 persen, sementara indeks volatilitas VIX berada di level rendah multi-bulan sekitar 14,85, mencerminkan suasana pasar yang relatif tenang.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei 225 Jepang melesat sekitar 4,7 persen dalam sepekan didorong reli saham teknologi dan spekulasi kenaikan suku bunga Bank of Japan pada September atau Oktober. Indeks Kospi Korea Selatan turut menguat tajam lebih dari 2 persen berkat lonjakan saham semikonduktor. Di sisi lain, indeks Hang Seng Hong Kong justru melemah sekitar 0,7-1 persen karena investor masih mencermati kondisi sektor properti dan prospek ekonomi China yang belum sepenuhnya pulih.

Week Ahead: Outlook Pasar Minggu Ini untuk 18-21 Agustus 2026

Memasuki pekan berikutnya, outlook pasar minggu ini akan sangat dipengaruhi oleh notulen rapat FOMC serta dimulainya Simposium Jackson Hole. Kombinasi kedua peristiwa ini berpotensi memberikan petunjuk baru terkait arah kebijakan suku bunga The Fed setelah pergeseran ekspektasi pasar dalam beberapa pekan terakhir. Musim laporan keuangan kuartal kedua juga memasuki tahap akhir dengan sejumlah peritel besar AS yang akan melaporkan kinerjanya, memberikan gambaran terbaru mengenai kekuatan belanja konsumen.

Kalender Ekonomi Pekan Ini

TanggalWaktu (ET)Data/PeristiwaDampak
Selasa, 18 AgustusSiangNAHB Housing Market IndexMedium
Rabu, 19 Agustus08:30Building Permits & Housing Starts (Juli)Medium
Rabu, 19 AgustusLaporan mingguan cadangan minyak APIMedium
Kamis, 20 Agustus14:00Notulen FOMC (rapat 28-29 Juli)High
Kamis, 20 AgustusLaporan mingguan cadangan minyak EIAMedium
Jumat, 21 Agustus08:30Klaim Pengangguran MingguanMedium
Jumat, 21 Agustus08:30Philadelphia Fed Manufacturing IndexMedium
Jumat, 21 Agustus09:45Flash PMI Manufaktur & Jasa S&P GlobalHigh
Jumat, 21 Agustus10:00Existing Home Sales (Juli)Medium
Jumat, 21 AgustusSepanjang hariPembukaan Simposium Jackson HoleHigh

Kalender Earnings Pekan Ini

TanggalPerusahaanSektor
Selasa, 18 AgustusHome Depot, BHP Group, BaiduRitel, Pertambangan, Teknologi
Rabu, 19 AgustusTarget, Lowe’s, TJX, Analog Devices, Estée LauderRitel, Semikonduktor, Consumer
Kamis, 20 AgustusWalmart, AlibabaRitel, E-commerce
Jumat, 21 AgustusBJ’s Wholesale ClubRitel

Proyeksi Pergerakan Aset Pekan Ini

Dua isu besar akan membentuk outlook pasar minggu ini: arah ekspektasi suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum tuntas. Perkembangan kedua faktor tersebut akan menjadi penggerak utama bagi pasar valuta asing, komoditas, saham AS, dan bursa Asia.

Dolar AS dan Mata Uang Utama

Arah dolar pekan ini bergantung pada nada notulen FOMC. Jika dokumen tersebut mengonfirmasi perpecahan pandangan di internal bank sentral seperti yang tersirat dari pernyataan resmi rapat Juli, ekspektasi pemangkasan atau penahanan suku bunga akan semakin kuat. Dalam skenario tersebut, DXY berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area psikologis 98,50-99,00, sementara euro dan mata uang mayor lainnya berpeluang mendapatkan dukungan.

Sebaliknya, jika notulen justru menonjolkan kekhawatiran terhadap inflasi dan menunjukkan sikap yang lebih hawkish, dolar berpotensi kembali menguat menuju area 100,60. Penguatan tersebut dapat memberikan tekanan terhadap euro dan mata uang utama lainnya.

Emas dan Perak

Kombinasi ekspektasi suku bunga yang lebih lunak dan risiko geopolitik Timur Tengah yang masih membayangi membuat bias emas dan perak cenderung bullish. Selama kebuntuan negosiasi terkait Selat Hormuz berlanjut, permintaan terhadap aset safe haven berpotensi tetap tinggi.

Emas berpeluang menguji kembali area $4.450-$4.500 per ons, dengan support utama di sekitar $4.300. Sementara itu, perak berpotensi menguji resistance di kisaran $67-$68 per ons selama rasio emas-perak masih mendukung rotasi minat investor ke logam putih tersebut.

Minyak

Harga minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Jika ketegangan di sekitar Selat Hormuz meningkat atau negosiasi kembali menemui jalan buntu, Brent berpotensi menguji area $90-$92 per barel karena meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.

Sebaliknya, jika muncul tanda-tanda de-eskalasi atau kemajuan diplomatik, harga minyak berisiko terkoreksi kembali ke kisaran $85 per barel seiring dengan meredanya premi risiko geopolitik.

Saham AS

Pasar saham AS menghadapi tarik-menarik antara ekspektasi suku bunga yang lebih ramah dan risiko pelemahan sentimen konsumen, seperti tercermin dari data penjualan ritel dan survei Michigan pekan lalu.

Laporan keuangan Home Depot, Target, Lowe’s, dan Walmart akan menjadi perhatian pasar untuk melihat apakah daya beli konsumen AS masih solid. Hasil yang mengecewakan berpotensi memicu koreksi jangka pendek meski tren utama pasar saham masih berada dalam fase rekor.

Jackson Hole pada akhir pekan juga menambah lapisan ketidakpastian. Investor akan mencermati setiap sinyal kebijakan dari Federal Reserve untuk memperkirakan arah suku bunga dan pasar saham hingga akhir 2026.

Bursa Asia

Nikkei dan Kospi berpotensi melanjutkan momentum penguatan, dengan dukungan sektor teknologi dan semikonduktor. Namun, spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan pada September atau Oktober dapat membatasi laju Nikkei apabila mendorong penguatan yen secara tajam.

Sementara itu, Hang Seng masih berpotensi menghadapi tekanan dari sentimen domestik China dan sektor properti. Kondisi tersebut dapat berubah apabila otoritas Beijing memberikan sinyal stimulus tambahan yang mampu meningkatkan kembali kepercayaan investor terhadap perekonomian China.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, outlook pasar minggu ini mencerminkan pasar yang sedang menyesuaikan diri dengan pergeseran ekspektasi suku bunga The Fed setelah rentetan data ekonomi AS yang lebih lunak. Dolar AS tertekan, emas dan perak menguat, sementara bursa saham AS dan sebagian bursa Asia justru mencetak performa solid berkat optimisme sektor teknologi. Pekan mendatang akan menjadi ujian penting bagi arah pasar, dengan notulen FOMC, Simposium Jackson Hole, dan laporan keuangan sejumlah peritel besar sebagai katalis utama yang patut dicermati oleh para pelaku pasar.

Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk melakukan aktivitas jual beli instrumen keuangan tertentu.

Sumber

Baca juga: Dolar AS Melemah di Tengah Ketidakpastian The Fed