Dolar AS Melemah Jelang Sejumlah Data Penting
Dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya pada Kamis, meski tekanan jual mulai mereda menjelang akhir pekan. Investor mencermati ulang arah kebijakan The Fed dan memantau perkembangan terbaru di Timur Tengah. Kalender ekonomi Eropa hari ini menghadirkan data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua. Pasar juga menanti data Penjualan Ritel bulan Juli dan Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan dari Amerika Serikat pada paruh kedua hari ini.
Inflasi Produsen AS Melandai, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menyusut
Data Producer Price Index (PPI) AS menunjukkan inflasi produsen tahunan melandai ke 4,7% pada Juli, turun dari 5,5% pada Juni. Angka ini berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 4,9%. CME FedWatch Tool mencatat peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September kini hanya sekitar 33%, turun tajam dari hampir 50% sepekan sebelumnya. Kondisi ini membuat Indeks Dolar AS bertahan di zona negatif, di bawah level 100,00 pada sesi Eropa Jumat. Meski Dolar AS melemah dalam beberapa hari terakhir, pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang rilis data inflasi Agustus.
Sikap Hawkish The Fed Bertahan Jelang Data Inflasi Agustus
Commerzbank menilai data inflasi Agustus akan sangat menentukan arah kebijakan The Fed karena rilisnya berlangsung tepat sebelum pertemuan The Fed berikutnya. Commerzbank juga menyoroti sikap Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack, yang terus mempertegas pandangan hawkish-nya. Hammack menyatakan inflasi tidak akan turun dengan sendirinya dan The Fed harus mendukung pernyataannya dengan tindakan nyata. Ia menambahkan bahwa satu kali kenaikan suku bunga saja tidak akan cukup untuk meredam tekanan harga.
Ketegangan AS-Iran Ikut Angkat Harga Minyak
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan Washington akan menerapkan langkah-langkah terhadap Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan AS dapat mempertahankan blokade terhadap Iran tanpa batas waktu. Setelah pergerakan yang fluktuatif pada Kamis, harga minyak mentah naik sekitar 1% dan mendekati level $81,30 pada awal perdagangan Jumat.
BoJ Bersiap Naikkan Suku Bunga, Yen Nyaris Tak Bereaksi
Reuters melaporkan pada Jumat bahwa Bank of Japan (BoJ) berencana menaikkan suku bunga secepatnya pada September dan kemungkinan mempercepat laju pengetatan kebijakan setelahnya. Selama ini BoJ hanya menaikkan suku bunga sekitar dua kali dalam setahun. USD/JPY melemah pada sesi pagi Eropa dan bergerak di bawah level 159,30.
OCBC mencatat respons Yen tetap terbatas meski ekspektasi pasar terhadap langkah BoJ semakin menguat. Jika BoJ kembali menaikkan suku bunga pada September, langkah ini akan menjadi kenaikan ketiga dalam sembilan bulan terakhir dan laju pengetatan tercepat sejak pecahnya gelembung aset Jepang pada 1989. OCBC menambahkan bahwa arah kebijakan Jepang setelah September atau Oktober masih belum jelas, karena besarnya keinginan pemerintah untuk melanjutkan kenaikan suku bunga juga belum pasti.
Emas Tertekan, Euro dan Poundsterling Menguat Terbatas
Ketidakpastian di Timur Tengah membuat harga Emas (XAU/USD) sulit melanjutkan penguatan mingguannya, meski ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September mulai bergeser. Harga Emas tertahan di bawah $4.350 pada sesi Eropa Jumat, turun sekitar 0,5% dalam sehari.
EUR/USD sempat turun mendekati 1,1500 pada Kamis, lalu berbalik naik dan berakhir relatif stabil. Pasangan mata uang ini bergerak tipis di atas level tersebut, sedikit di bawah 1,1550, pada sesi pagi Eropa. Ekonomi Zona Euro diproyeksikan tumbuh 1% secara tahunan pada kuartal kedua.
GBP/USD juga terkoreksi naik dan bergerak di kisaran 1,3500 pada awal Jumat, setelah mencatat pelemahan tipis selama dua hari beruntun.
Baca juga: Saham Asia Menguat, Inflasi AS Redam Ekspektasi Fed
