Outlook Pasar Minggu Ini: Wall Street Nantikan CPI AS

Weekly Outlook - Kepoin Trading

Outlook pasar minggu ini bergantung pada satu data besar: inflasi Amerika Serikat. Bureau of Labor Statistics akan merilis Consumer Price Index (CPI) Juli pada Rabu, 12 Agustus. Rilis ini menjadi penentu arah suku bunga The Fed setelah laporan tenaga kerja Juli mengejutkan seluruh pelaku pasar akhir pekan lalu.

Rekap Pasar Pekan Lalu

Wall Street menutup pekan dengan penguatan solid. Nasdaq melesat 5,2%, sementara S&P 500 naik 3,6% dan Dow Jones bertambah 3%. Ketiga indeks mencatat kinerja mingguan terbaik sejak April. Saham SpaceX (SPCX) melompat pada perdagangan Jumat dan menguat di atas $130, mendekati harga IPO-nya sekaligus mencetak penutupan harian terbaik sejak pertengahan Juli.

Kenaikan tajam ini muncul setelah laporan Non-Farm Payrolls (NFP) Juli mengungkap pelemahan tenaga kerja yang jauh lebih dalam dari perkiraan sebelumnya. Ekonomi AS kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli, padahal konsensus memperkirakan penambahan 80.000 pekerjaan. Data Mei dan Juni juga mengalami revisi turun signifikan sebesar 103.000 pekerjaan secara gabungan, dengan angka Juni juga mengalami revisi turun dari 57.000 menjadi 20.000. Pertumbuhan upah tahunan pun melambat ke 3,2%.

Data Tenaga Kerja Mengubah Peta Ekspektasi The Fed

Laporan NFP yang lemah menaikkan hambatan bagi kenaikan suku bunga lanjutan dari The Fed. Tingkat pengangguran memang turun ke 4,1%, tetapi penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja meredam sinyal positif tersebut.

Probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September, menurut alat CME FedWatch, anjlok tajam dari 67% menjadi hanya 46% dalam sepekan. Sebelum rilis NFP, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 55% berbanding peluang bertahan 45%. Setelah rilis, posisi itu berbalik menjadi sekitar 55% peluang bertahan dan 45% peluang naik. Pembalikan ini besar, namun pasar masih menahan diri untuk mengambil posisi dovish penuh.

Yield obligasi Treasury 10 tahun bertahan di kisaran kritis 4,60%, sementara Dollar Index menghentikan pelemahan pasca-NFP di level support kunci 99,41. Dow Jones dan S&P 500 pun sempat mencetak rekor sepanjang pekan, tetapi tidak merespons ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dengan antusias berlebihan.

Ketegangan Timur Tengah Tetap Membayangi Inflasi

Krisis di Selat Hormuz masih menjadi faktor pengganjal repricing dovish penuh. Harga minyak Brent bertahan di atas $80 per barel, menjaga risiko inflasi tetap tinggi meski data tenaga kerja melemah.

Akhir pekan lalu, Iran menyatakan negosiasi dengan Oman untuk membuka jalur pelayaran aman melalui selat tersebut mendekati kesepakatan. Tehran tetap mengingatkan bahwa kesepakatan tidak akan langsung membuka kembali jalur tersebut. Militan Houthi pro Iran di Yaman mengklaim serangan terbaru terhadap kilang Jazan milik Arab Saudi, sementara sebuah kapal tanker milik Abu Dhabi National Oil Co. mengalami serangan di Selat Hormuz.

Iran menolak negosiasi langsung dengan Amerika Serikat untuk saat ini, dengan alasan pelanggaran kesepakatan damai sementara yang dicapai pada Juni. Tehran tetap menuntut penghentian blokade angkatan laut AS, pencabutan sanksi, dan kompensasi kerusakan perang. Presiden Donald Trump menyatakan akan tetap bersabar dalam menghadapi negosiasi tersebut, meski tekanan domestik terhadap pemerintahannya untuk segera menuntaskan persoalan dengan Iran terus meningkat.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak proposal 15 poin milik Trump untuk Gaza, meski Israel telah mengurangi serangannya di kawasan tersebut. Hamas menyatakan tetap berkomitmen pada proposal itu, sementara pejabat AS menilai penolakan Netanyahu lebih mementingkan politik domestik. Dukungan Iran terhadap Hamas membuat konflik Gaza tetap terkait erat dengan kebuntuan hubungan AS-Iran.

Terkait pasar energi, TD Securities menyebut bahwa “energy markets hold out hope for a deal,” meski data frekuensi tinggi milik bank tersebut menunjukkan neraca minyak mentah global telah kembali mengalami defisit signifikan dan pasar produk turunannya tetap ketat.

Dolar, Emas, dan Perak Bergerak Tajam

Dollar Index (DXY) turun ke bawah level 100,00 setelah tergelincir sepanjang sesi Jumat. Pergerakan ini terjadi setelah data NFP menunjukkan ekonomi AS kehilangan pekerjaan, bukan menambahnya seperti perkiraan pasar.

Harga emas menutup pekan di atas $4.300, mencatat penguatan mingguan terkuat sejak Januari. Ekspektasi penurunan suku bunga yang mengendur mendorong logam mulia ini. Rilis CPI hari Rabu menjadi katalis paling penting bagi pergerakan emas selanjutnya. Angka inflasi yang lunak akan mengonfirmasi tren kenaikan, sementara angka yang kuat berpotensi memicu koreksi tajam, apalagi risiko Selat Hormuz masih menekan harga energi.

Harga perak bergerak di kisaran ketat sekitar $63,50 pada sesi Asia awal pekan, mendekati level tertinggi hampir tujuh minggu di $65,16 yang tercatat pada Jumat lalu. Volatilitas logam mulia kemungkinan akan meningkat menjelang rilis CPI Juli pada Rabu, mengingat pernyataan kebijakan moneter Juli menegaskan komitmen The Fed menekan inflasi menuju target 2%.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah pada sesi Asia hari Senin, setelah mencatat kenaikan lebih dari 4% pada perdagangan sebelumnya, dan bergerak di kisaran $76,40 per barel. Ketidakpastian seputar pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak kembali naik dalam waktu dekat.

Outlook Pasar Minggu Ini untuk Mata Uang Utama

Outlook pasar minggu ini juga mencakup sejumlah rilis data penting di kawasan Eropa, Inggris, Jepang, dan Australia yang akan menentukan arah mata uang utama.

Mata Uang Eropa

EUR/USD menutup pekan di atas level 1,1550, mendekati puncak dua bulan terakhir. Kalender zona Euro pekan ini didominasi konfirmasi data, bukan kejutan baru. Inflasi final Jerman dan Italia rilis Rabu, disusul angka Spanyol dan Prancis pada hari berikutnya, sementara data Produksi Industri zona Euro rilis Kamis. Sorotan utama jatuh pada GDP kuartal kedua yang rilis Jumat, dengan konsensus 0,4% secara kuartalan dan 1% secara tahunan, bersamaan dengan data awal Perubahan Ketenagakerjaan.

GBP/USD diperdagangkan mendekati 1,3500 menjelang akhir pekan, menguji level resistance untuk kedua kalinya bulan ini. Inggris akhirnya memiliki katalis domestiknya sendiri pekan ini. Data GDP kuartal kedua rilis Kamis, dengan perkiraan perlambatan ke 0,4% dari 0,6% sebelumnya. GDP bulanan diperkirakan justru kontraksi 0,1%, sementara Produksi Manufaktur diperkirakan turun. Angka yang lemah akan mempersulit posisi Bank of England dan memberi tekanan domestik pertama bagi Cable dalam beberapa pekan terakhir.

Mata Uang Asia Pasifik

USD/JPY menutup pekan di bawah level 158,00 setelah Yen menguat tajam merespons data NFP yang lemah. Pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi, sepekan setelah operasi bersama otoritas Tokyo dan Washington. Kalender Jepang relatif sepi, dengan data Neraca Transaksi Berjalan Juni pada Minggu menjadi satu-satunya rilis penting. Pergerakan pasangan ini akan sangat bergantung pada data AS dan potensi intervensi otoritas Jepang.

AUD/USD diperdagangkan di bawah level 0,7100, level terbaik dalam dua bulan terakhir. Reserve Bank of Australia (RBA) akan mengumumkan keputusan suku bunga pada Selasa, dan pasar secara luas memperkirakan bank sentral menahan suku bunga di level 4,35%. Gubernur RBA Michele Bullock dijadwalkan berpidato pada Kamis, dan pernyataannya akan menjadi sorotan utama menyusul keputusan suku bunga tersebut. Data inflasi China pada Minggu turut memengaruhi arah Aussie, dengan konsensus inflasi konsumen melambat ke 0,8% secara tahunan dan inflasi harga produsen ke 3,8%. Angka yang lebih lunak dari perkiraan berpotensi menghidupkan kembali kekhawatiran pertumbuhan yang membebani Aussie sepanjang tahun ini.

Kalender Ekonomi Pekan Ini

HariTanggalData/PeristiwaForecastPrevious
Minggu9 AgustusChina CPI (y/y)0,8%
Minggu9 AgustusChina PPI (y/y)3,8%
Minggu9 AgustusJepang Neraca Transaksi Berjalan
Selasa11 AgustusKeputusan Suku Bunga RBATahan 4,35%4,35%
Rabu12 AgustusCPI AS (y/y headline)3,4%
Rabu12 AgustusCPI AS (y/y core)2,5%
Rabu12 AgustusInflasi Final Jerman & Italia
Kamis13 AgustusProducer Price Index AS
Kamis13 AgustusGDP Kuartal II Inggris (q/q)0,4%0,6%
Kamis13 AgustusGDP Bulanan Inggris-0,1%
Kamis13 AgustusProduksi Industri Zona Euro
Kamis13 AgustusPidato Gubernur RBA Michele Bullock
Kamis13 AgustusPidato Pejabat The Fed (Hammack & Barkin)
Jumat14 AgustusRetail Sales AS0,2%
Jumat14 AgustusGDP Awal Kuartal II Zona Euro (q/q)0,4%
Jumat14 AgustusGDP Awal Kuartal II Zona Euro (y/y)1%
Jumat14 AgustusMichigan Consumer Sentiment (prelim)

Kalender Rilis Laba Perusahaan

HariTanggalPerusahaanTicker
Senin10 AgustusAST SpaceMobileASTS
Senin10 AgustusFirefly AerospaceFLY
Senin10 AgustusVirgin GalacticSPCE
Senin10 AgustusRocket LabRKLB
Selasa11 AgustusOn HoldingONON
Selasa11 AgustusCava GroupCAVA
Selasa11 AgustusSuper Micro ComputerSMCI
Selasa11 AgustusCoreWeaveCRWV
Selasa11 AgustusLumentum HoldingsLITE
Rabu12 AgustusCerebras SystemsCBRS
Rabu12 AgustusCoherentCOHR
Kamis13 AgustusBirkenstock HoldingBIRK
Kamis13 AgustusApplied MaterialsAMAT
Kamis13 AgustusJack in the BoxJACK
Kamis13 AgustusRed Robin Gourmet BurgersRRGB
Kamis13 AgustusBrinker InternationalEAT

Rocket Lab (RKLB), yang juga melapor pekan ini, berencana mengakuisisi Iridium Communications (IRDM), penyedia jaringan komunikasi satelit. CoreWeave (CRWV) dan Nebius Group (NBIS) sama-sama bergabung ke indeks Nasdaq 100 musim panas ini, dengan Nvidia (NVDA) tercatat sebagai investor di kedua perusahaan tersebut. S&P 500 turut menambahkan Lumentum dan Coherent ke dalam indeksnya baru-baru ini.

Baca juga: Warsh Sinyal Ubah Ukuran Inflasi Fed

Diambil dari berbagai sumber: FXStreet, Action Forex, Yahoo Finance

About Alwy Assegaf 346 Articles
Kepoin Trading is a market analyst and trading enthusiast who focuses on Forex, commodities, global indices, and cryptocurrency market research. He shares educational content, technical analysis, and macroeconomic insights to help traders understand market movements and improve their trading decisions. The content published on Kepoin Trading is for educational purposes only and should not be considered as financial advice. Always do your own research (DYOR) before making any investment decisions.