Wall Street Bersiap Hadapi Data Inflasi PCE

Weekly Outlook - Kepoin Trading

Wall Street Pekan Ini Tetap Kuat Meski Banyak Risiko

Wall Street pekan ini masih bergerak di area rekor meski pasar menghadapi tekanan dari inflasi, imbal hasil obligasi, dan ketidakpastian geopolitik. Indeks S&P 500 kembali bertahan di area 7.500, sementara Nasdaq dan Dow Jones terus mencetak kenaikan setelah musim laporan keuangan yang sangat solid.

Kinerja emiten sepanjang kuartal pertama memberi dorongan besar bagi pasar saham AS. Pertumbuhan laba perusahaan tercatat mencapai sekitar 26% secara tahunan, level tertinggi sejak 2021. Banyak perusahaan teknologi dan sektor konsumen juga berhasil melampaui ekspektasi analis.

Meski demikian, investor mulai mengurangi euforia karena pasar memasuki fase konsolidasi. Fokus utama kini beralih ke data ekonomi, arah suku bunga Federal Reserve, dan perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.


Earnings Musim Ini Dorong Optimisme Pasar

Musim earnings memang hampir selesai, tetapi beberapa perusahaan besar masih akan merilis laporan penting pekan ini. Investor akan mencermati sektor teknologi, AI, dan ritel untuk membaca kondisi ekonomi konsumen AS.

Saham teknologi berbasis AI masih menjadi pusat perhatian. Marvell Technology yang sudah melonjak lebih dari 120% tahun ini akan melaporkan kinerja terbaru pada hari Rabu. Selain itu, Salesforce juga menjadi perhatian karena perusahaan tersebut belum menikmati lonjakan AI sebesar rival-rivalnya.

Pada hari Kamis, pasar akan melihat laporan dari Costco, Dell Technologies, Dollar Tree, hingga Best Buy. Laporan dari sektor ritel dapat memberi gambaran mengenai daya beli masyarakat AS di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi.

Walau banyak CEO terdengar lebih hati-hati saat memberikan panduan bisnis, sebagian besar perusahaan tetap menaikkan proyeksi pendapatan mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa fundamental korporasi AS masih cukup kuat.


Negosiasi Iran Jadi Sorotan Baru Pasar

Selain data ekonomi, investor juga memantau perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar mulai percaya bahwa kedua negara semakin dekat menuju kesepakatan baru terkait program nuklir dan jalur perdagangan energi.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz dan mengurangi uranium yang diperkaya sebagai bagian dari kesepakatan. Sebagai imbalannya, AS kemungkinan akan melonggarkan beberapa pembatasan ekonomi dan militer.

Perkembangan ini membuat pasar sedikit mengurangi posisi safe haven seperti emas. Jika kesepakatan benar-benar tercapai, risiko gangguan pasokan minyak global juga bisa menurun.

Namun, investor tetap berhati-hati karena negosiasi serupa sebelumnya beberapa kali gagal mencapai tahap final.


Harga Emas Kehilangan Momentum

Harga emas mengalami tekanan besar setelah mencatat penurunan mingguan terdalam tahun ini. Investor mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve setelah inflasi AS kembali menunjukkan kenaikan.

Kenaikan yield obligasi Treasury dan penguatan dolar AS juga membuat daya tarik emas menurun. Selain itu, kemajuan negosiasi AS-Iran ikut mengurangi permintaan aset lindung nilai.

Pasar kini menunggu data inflasi PCE yang akan dirilis Kamis. Data tersebut menjadi indikator inflasi favorit Federal Reserve dan dapat menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Jika inflasi kembali naik di atas ekspektasi, peluang pemangkasan suku bunga tahun ini bisa semakin kecil. Kondisi tersebut dapat memberi tekanan tambahan pada harga emas.


AI dan PHK Teknologi Mulai Jadi Kekhawatiran

Wall Street pekan ini juga mulai memperhatikan dampak besar perkembangan kecerdasan buatan terhadap pasar tenaga kerja. Banyak perusahaan teknologi besar melakukan efisiensi sambil mempercepat penggunaan AI di berbagai lini bisnis.

Meta, Cloudflare, dan beberapa perusahaan teknologi lain terus mengurangi jumlah karyawan mereka. Manajemen perusahaan menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari transformasi dan inovasi jangka panjang.

Meski angka PHK nasional masih tergolong rendah, investor mulai mempertanyakan bagaimana dampak AI terhadap ekonomi secara keseluruhan dalam beberapa tahun mendatang.

Untuk sementara, pasar masih melihat AI sebagai mesin pertumbuhan laba baru bagi perusahaan teknologi besar.


Fokus Utama Pasar: Data Inflasi PCE

Data inflasi PCE menjadi agenda ekonomi paling penting pekan ini. Investor akan mencari petunjuk apakah tekanan harga di AS mulai melambat atau justru semakin kuat.

Konsensus pasar memperkirakan Core PCE tahunan naik menjadi 3,3% dari sebelumnya 3,2%. Jika hasil aktual lebih tinggi, Federal Reserve kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pasar obligasi juga mulai mencerminkan kekhawatiran tersebut. Yield Treasury AS bergerak naik karena investor mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga agresif pada 2026.

Karena itu, Wall Street pekan ini berpotensi bergerak lebih volatil menjelang rilis data inflasi Kamis malam waktu Indonesia.


Kalender Ekonomi Pekan Ini

HariAgenda EkonomiPerkiraanSebelumnya
SelasaConsumer Confidence CB92.592.8
SelasaDallas Fed Manufacturing-2.3
RabuMBA Mortgage Applications-2.3%
RabuRichmond Fed Manufacturing3
KamisPCE MoM April0.5%0.7%
KamisPCE YoY April3.9%3.5%
KamisCore PCE MoM0.3%0.3%
KamisCore PCE YoY3.3%3.2%
KamisGDP Q1 Annualized2.0%2.0%
KamisInitial Jobless Claims209K
JumatChicago PMI51.249.2

Jadwal Earnings Penting Pekan Ini

HariPerusahaanFokus Pasar
SeninTrip.com GroupPariwisata China
SelasaAutoZoneKonsumen otomotif
SelasaZscalerCybersecurity
RabuMarvell TechnologyAI & semikonduktor
RabuSalesforcePertumbuhan AI
RabuSnowflakeCloud & data
KamisCostcoBelanja konsumen
KamisDell TechnologiesInfrastruktur AI
KamisDollar TreeKonsumen menengah
KamisBest BuyPenjualan elektronik
KamisOktaCybersecurity
KamisThe GapRitel fashion

Prospek Pasar Pekan Ini

Pasar saham AS masih memiliki momentum positif berkat kinerja earnings yang kuat. Namun, investor mulai memasuki fase yang lebih sensitif terhadap data ekonomi dan kebijakan suku bunga.

Data inflasi PCE akan menjadi penentu utama arah pasar dalam jangka pendek. Selain itu, perkembangan negosiasi AS-Iran dan pergerakan harga minyak juga dapat memengaruhi sentimen global.

Jika inflasi tetap tinggi, pasar kemungkinan menghadapi tekanan profit taking. Sebaliknya, data inflasi yang lebih lemah dapat membuka peluang reli lanjutan untuk saham teknologi dan aset berisiko.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk informasi dan edukasi, bukan saran investasi atau rekomendasi trading.

Baca juga : Wall Street Dibayangi Nvidia dan Lonjakan Minyak

Sumber: Yahoo Finance