Pendahuluan
Pasar tenaga kerja AS 2025 menunjukkan perlambatan signifikan setelah bertahun-tahun pulih pascapandemi. Pencari kerja menghadapi kondisi sulit, sementara prospek 2026 belum memberi harapan kuat. Data terbaru memperlihatkan pelemahan perekrutan, naiknya pengangguran, serta meningkatnya kekhawatiran akan tekanan lanjutan pada pasar kerja Amerika Serikat.
Pengangguran Naik, Perekrutan Melemah
Laporan ketenagakerjaan November menunjukkan tingkat pengangguran melonjak ke 4,6%. Angka ini memang masih rendah secara historis, namun menjadi level tertinggi sejak pertengahan 2021. Pada saat yang sama, survei University of Michigan mencatat mayoritas konsumen memperkirakan pengangguran akan meningkat dalam satu tahun ke depan.
Pertumbuhan lapangan kerja juga nyaris berhenti. Pasar tenaga kerja kehilangan sekitar 41.000 pekerjaan selama Oktober dan November. Perusahaan menahan perekrutan, sementara tingkat hiring bertahan di level terendah sejak awal pandemi dan periode pasca Great Recession.
Pasar Kerja “Low-Hire, Low-Fire” Bertahan
Indeed Hiring Lab menggambarkan kondisi saat ini sebagai pasar kerja yang membeku. Para analis menilai pertanyaan utamanya bukan kapan pasar mencair, melainkan apakah tekanan akan memicu retakan.
Sektor kesehatan menyumbang sekitar 47,5% dari total pertumbuhan lapangan kerja sepanjang 2025 hingga Agustus. Jika sektor ini melemah tanpa dukungan sektor lain, tekanan terhadap pasar tenaga kerja AS 2025 bisa meningkat lebih dalam.
Risiko 2026 dan Pandangan The Fed
Federal Reserve memproyeksikan pengangguran mencapai puncak 4,5% sebelum turun ke 4,4% pada akhir 2026. Namun realisasi terbaru sudah melampaui proyeksi tersebut. Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan pasar tenaga kerja berada di bawah tekanan dan penciptaan lapangan kerja berpotensi negatif.
Kondisi ini mencerminkan risiko penurunan yang nyata. Masyarakat sangat sensitif terhadap perubahan pasar kerja karena dampaknya langsung terasa pada konsumsi dan stabilitas ekonomi.
Dampak Terbesar ke Pekerja Muda
Pencari kerja muda menghadapi tantangan paling berat. Survei National Association of Colleges and Employers menunjukkan lebih dari separuh perusahaan menilai prospek lulusan 2026 hanya berada di kategori buruk hingga cukup. Mayoritas perusahaan memilih mempertahankan jumlah karyawan saat ini.
Rencana perekrutan untuk lulusan baru hanya naik sekitar 1,6%, yang berarti stagnan dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini melanjutkan tren sulit yang membuat banyak lulusan mengirim ratusan lamaran tanpa respons.
Peran AI dan Perubahan Struktur Tenaga Kerja
Perusahaan mulai mendorong peningkatan keterampilan, magang, dan pengalaman kerja kampus. Keahlian AI menjadi nilai tambah, meski sebagian kecil perusahaan sudah mendiskusikan potensi penggantian peran entry-level dengan teknologi.
Namun mayoritas perusahaan memandang AI sebagai alat augmentasi, bukan pengganti tenaga kerja. Perubahan ini menuntut adaptasi cepat dari angkatan kerja baru.
Imigrasi, Demografi, dan Soft Landing
Sebagian ekonom menilai pelemahan ini bukan awal resesi, melainkan fase ekspansi matang. Pembatasan imigrasi dan populasi yang menua menekan pasokan tenaga kerja, sehingga kebutuhan penciptaan pekerjaan menjadi lebih rendah untuk menjaga stabilitas pengangguran.
Pandangan ini menyebut perlambatan saat ini sebagai efek tertunda dari soft landing kebijakan moneter. Meski begitu, pasar tenaga kerja AS 2025 tetap berada dalam fase rapuh yang memerlukan perhatian ketat.
Kesimpulan
Pasar kerja AS memasuki periode stagnasi yang menantang. Perekrutan lambat, pengangguran naik, dan prospek 2026 masih dibayangi risiko. Tanpa dorongan dari sektor lain, tekanan terhadap pasar tenaga kerja AS 2025 berpotensi berlanjut dan memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara luas.
Baca juga: NFP Desember 2025 Jadi Penentu Arah Suku Bunga Fed
Sumber: Yahoo Finance
