Awal Mula Cerita
Pagi itu Raka duduk manis di depan laptop, kopi susu di tangan kiri, mouse di tangan kanan, dan harapan di hati. Setelah semalam begadang sambil analisa, satu hal yang bikin dia yakin: Parabolic SAR udah muncul di bawah candle.
That’s a clear signal, right? Bullish, katanya. Optimis, rasanya.
Raka buka posisi buy. Lalu menatap layar sambil nyender ke kursi, seperti pahlawan yang baru saja menyelamatkan dunia dari sideways.
Lima menit kemudian…
Satu candle merah muncul.
Disusul yang kedua.
Lalu ketiga.
Raka meneguk kopi yang tiba-tiba rasanya pahit. Bukan karena kurang gula, tapi karena kenyataan. Is this really happening? pikirnya sambil memperbesar chart, berharap itu cuma ilusi optik. Spoiler: bukan.
Parabolic SAR-nya masih nunjuk bawah, tapi harga malah diving kaya atlet loncat indah. What kind of betrayal is this?
Sore harinya, di coworking space langganan, Raka ketemu Lala—teman satu komunitas trading yang biasa jadi tempat curhat saat mental mulai ambyar.
Lala melihat ekspresi Raka dari jauh. Matanya kosong, tatapan penuh tanya, bibir nyaris berbisik, “Kenapa aku yang buy, tapi market yang kabur?”
“Kena prank indikator lagi?” tanya Lala sambil nyodorin donat.
Raka cuma angguk pelan. No words needed. Chemistry antar korban floating memang tidak butuh banyak penjelasan.
Malamnya, Raka merenung. Di layar laptop, grafik masih menukik. Tapi kali ini, dia nggak panik.
Ia mulai baca ulang catatan trading. Tambahin indikator lain: RSI, EMA, dan MACD. Nggak cuma andelin Parabolic SAR doang.
Because one signal is never enough. You need a team of confirmation, darling.
Lala sempat nyeletuk, “Parabolic SAR itu kayak teman yang suka kasih harapan. Kadang bener, kadang bikin makan Indomie dua minggu.”
Lesson of the day:
Jangan percaya satu indikator doang, meskipun tampilannya cute dan titik-titiknya imut. Trading bukan tebak-tebakan, tapi kombinasi antara analisa, pengalaman, dan kadang… keberuntungan yang absurd.
Don’t let one false signal ruin your confidence. Let it ruin your day—then move on and learn from it.
Penutup
Minggu ini, Raka memang kalah. Tapi dia kalah dengan gaya. Dengan standing desk baru, keyboard kece, dan buku tebal yang siap dibaca, dia tahu: next week, dia bakal lebih siap.
Karena sejatinya, trader sejati bukan yang selalu profit. Tapi yang selalu balik lagi ke chart—dengan senyum sinis dan modal secukupnya.
Cerita di Balik Chart – Edisi 18 Mei 2025
Disclaimer
Cerita ini murni fiksi. Tidak ada Parabolic SAR yang disakiti secara fisik dalam pembuatan cerita ini. Semua candle berperan sebagai diri mereka sendiri. Jangan lupa cut loss, bukan perasaan.
Baca juga: Cerita di Balik Chart: “Ketika EMA 200 Bikin Galau”
