Review Pasar Emas dan Minyak: Faktor Penggerak dan Pergerakan Terkini

Pasar emas dan minyak kembali menjadi sorotan utama investor global akibat berbagai peristiwa geopolitik dan ekonomi. Kenaikan harga emas serta volatilitas harga minyak mencerminkan respons pasar terhadap ketidakpastian yang meningkat. Berikut ulasan terkini mengenai kedua komoditas ini.

Emas Melonjak ke Rekor Tertinggi

Harga emas mencetak rekor baru, menyentuh $2.989,98 per ons di awal perdagangan Asia pada hari Jumat. Lonjakan ini dipicu oleh kebijakan tarif agresif Presiden Donald Trump serta laporan inflasi AS yang melemah. Data inflasi wholesale AS yang stagnan pada Februari memberi sinyal bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar mungkin diperlukan untuk menjaga stabilitas harga. Kondisi ini meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 dan 30 tahun semakin memperkuat daya tarik emas. Imbal hasil yang lebih rendah, bersamaan dengan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, membuat emas semakin diminati. Koreksi tajam pasar saham AS sebesar 10%—dengan kapitalisasi pasar yang menyusut sekitar $5 triliun sejak Februari—mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset perlindungan.

Kebijakan perdagangan Trump yang tidak menentu semakin memanaskan pasar. Ancaman tarif 200% pada produk anggur Eropa serta kebijakan baru terkait baja dan aluminium menciptakan ketidakpastian yang berpotensi terus mendorong kenaikan harga emas. Beberapa institusi keuangan, termasuk Macquarie Group dan BNP Paribas SA, bahkan memprediksi harga emas dapat melampaui $3.500 per ons pada kuartal kedua tahun ini.

Minyak Bangkit di Tengah Sanksi AS

Pasar minyak juga mengalami pergerakan signifikan, meskipun lebih dinamis dibandingkan emas. Harga Brent naik ke sekitar $70 per barel setelah sebelumnya turun 1,5%, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di bawah $67 per barel.

Kenaikan harga minyak terutama didorong oleh langkah Amerika Serikat yang memperketat sanksi terhadap Iran dan Rusia. Pemerintah AS menjatuhkan sanksi tambahan pada menteri minyak Iran serta membatasi opsi pembayaran untuk energi Rusia. Kebijakan ini membantu membalikkan sebagian tekanan bearish yang sebelumnya muncul akibat prediksi suram dari Badan Energi Internasional (IEA).

IEA memperkirakan surplus pasokan minyak global akan semakin dalam akibat perang dagang yang menekan permintaan, sementara OPEC+ mulai meningkatkan produksi. Meskipun demikian, minyak Brent hanya mencatat penurunan mingguan keempat, sedangkan WTI mengalami tren pelemahan mingguan kedelapan, terpanjang sejak 2015.

Kesimpulan

Ketidakpastian ekonomi global, yang dipicu oleh kebijakan perdagangan AS dan dinamika geopolitik, membuat investor semakin tertarik pada aset safe haven seperti emas. Di sisi lain, pasar minyak tetap berfluktuasi di tengah ketegangan sanksi dan kekhawatiran surplus pasokan. Untuk saat ini, emas menunjukkan potensi bullish yang kuat, sementara minyak menghadapi tantangan lebih kompleks meskipun mendapatkan dorongan dari sanksi terbaru.