Futures saham AS mengalami pelemahan pada Minggu malam setelah investor mencerna laporan ketenagakerjaan Februari dan bersiap menghadapi pekan yang penuh dengan rilis data ekonomi. Fokus utama pasar adalah laporan inflasi yang semakin mendapat perhatian di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Indeks futures Dow Jones Industrial Average turun 0,5%, sementara futures S&P 500 mengalami penurunan 0,7% setelah mencatat kinerja mingguan terburuk sejak September. Nasdaq futures pun turun lebih dalam, melemah hingga 1%. Ketiga indeks utama tersebut berpotensi memperpanjang kerugian lebih dari 2% yang telah terjadi pada pekan lalu.
Ketegangan pasar sepanjang Maret ini terus dipicu oleh kekhawatiran perang dagang, terutama terkait negosiasi tarif antara AS, Meksiko, dan Kanada yang masih menjadi sorotan utama. Dalam wawancara di Fox News pada Minggu, Trump menanggapi kekhawatiran resesi dengan menyebut bahwa ekonomi AS sedang memasuki “periode transisi.”
Sementara itu, Mark Carney akan segera dilantik sebagai Perdana Menteri Kanada di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan akibat ancaman tarif dari Trump yang terus berlanjut. Ketidakpastian politik ini diperkirakan masih akan berlanjut pekan ini, terutama dengan berbagai rilis data ekonomi yang berpotensi mengguncang pasar.
Fokus Pasar: Inflasi dan Sentimen Konsumen
Investor akan mencermati survei inflasi konsumen dari Federal Reserve yang dijadwalkan rilis pada Senin, diikuti oleh laporan sentimen konsumen dari University of Michigan pada Jumat. Selain itu, data inflasi akan menjadi perhatian utama, dengan laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Februari yang akan dirilis pada Rabu, disusul oleh Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis.
Sementara itu, musim laporan keuangan masih berlangsung, meskipun jumlah emiten yang merilis laporan lebih sedikit pekan ini. Oracle (ORCL) dan BioNTech (BNTX) dijadwalkan merilis laporan keuangan mereka pada Senin, sementara Adobe (ADBE) akan melaporkan kinerjanya pada Rabu.
Harga Minyak Melemah, China Tambah Kekhawatiran Pasar
Harga minyak global juga mengalami penurunan setelah data ekonomi China menunjukkan prospek permintaan yang suram. Brent diperdagangkan di sekitar $70 per barel setelah menyentuh level terendah sejak 2021 pekan lalu, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun di bawah $67. Inflasi konsumen di China merosot lebih dari yang diperkirakan dan bahkan berada di bawah nol untuk pertama kalinya dalam 13 bulan, menandakan tekanan deflasi yang masih berlanjut di negara pengimpor minyak terbesar dunia.
Di AS, Trump kembali menegaskan bahwa ekonomi sedang dalam “periode transisi” akibat kebijakan tarifnya, namun menghindari pernyataan langsung terkait potensi resesi. Sementara itu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Jumat lalu mengakui meningkatnya ketidakpastian ekonomi, meskipun ia menegaskan bahwa bank sentral belum perlu terburu-buru memangkas suku bunga.
Harga minyak juga terbebani oleh berbagai faktor negatif, termasuk eskalasi perang dagang global, rencana OPEC dan sekutunya untuk meningkatkan produksi, serta pembicaraan damai terkait perang tiga tahun di Ukraina. Kondisi ini membuat spekulan memangkas taruhan bullish mereka terhadap Brent dalam jumlah terbesar sejak Juli.
Dengan kombinasi ketidakpastian politik, tekanan inflasi, dan sentimen pasar yang bergejolak, pekan ini diperkirakan akan menjadi periode yang krusial bagi investor dalam menentukan arah investasi mereka.
Masih Penasaran? Lihat Artikel Lainnya Sekarang
